Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Bais TNI Terlibat Kasus Air Keras Ungkap Reza Indragiri, Jejak Berantakan


Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel membongkar tiga kejanggalan keterlibatan prajurit BAIS TNI dalam kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus.

Ia menilai tindakan yang dilakukan terlalu berantakan bila kasus kriminal terencana itu dilakukan oleh anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI. 

 Reza menyoroti jejak berantakan yang ditinggalkan para eksekutor saat menyiram air keras kepada Andrie Yunus. Empat prajurit BAIS TNI yang diamankan terdiri dari level perwira dan bintara, yakni Kapten NDP, Letnan Satu (Lettu) SL, Lettu BHW, dan Sersan Dua (Serda) ES.

Tiga kejanggalan yang diungkap Reza Indragiri yakni. Tidak memakai sarung tangan. Tidak memakai penutup muka atau masker Meninggalkan barang bukti di tempat kejadian perkara (TKP). Menurut Reza Indragiri, hal itu terlihat janggal sebab yang dilibatkan seorang intelijen.

"Bisa lihat, ini orang katanya dari Bais (Badan Intelijen Strategis). Tapi betapa joroknya operasi mereka gitu. Enggak pakai tutup muka, enggak pakai sarung tangan, barang bukti dilempar begitu saja," jelas Reza dihubungi Rabu (18/3/2026).

Maka Reza menduga, jangan-jangan operasi tersebut sengaja dibuat kotor agar mudah terungkap ke publik. Tujuannya bisa saja untuk menyudutkan satu lembaga tertentu.

Dalam kriminologi kata Reza, hal itu disebut False Flag Operation atau Operasi bendera palsu. False Flag Operation adalah tindakan rahasia—seringkali berupa kekerasan atau tindakan yang menggangguyang direkayasa oleh pemerintah, perusahaan, atau kelompok untuk membuat seolah-olah pihak lain yang bertanggung jawab, sehingga menyamarkan sumber sebenarnya.

Kata ini berasal dari peperangan laut, operasi ini dirancang untuk memanipulasi opini publik, membenarkan perang, atau menjebak musuh.

Reza melihat joroknya operasi teror terhadap Andrie Yunus seperti mengesankan agar pelaku bisa segera ditangkap sehingga sesuai dengan tujuan adanya teror tersebut.

"Dan sejak awal saya katakan bahwa dua orang ini menyerahkan diri saja. Itu eksplisit saya kemukakan bahwa dua orang ini seperti menyerahkan diri saja, Kenapa? Karena kalian ini dipekerjakan agar kalian itu ditangkap," tutur Master di bidang Psikologi Forensik itu.

Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada itu menjelaskan dalam sebuah organisasi apalagi militer ada yang namanya Rouge Operation alias Operasi Merah. 

Operasi Merah adalah kelompok sempalan yang melakukan operasi di luar garis komando, bahkan tanpa sepengetahuan struktur organisasi.

Reza pun tidak menutup kemungkinan bahwa peristiwa teror terhadap Andrie Yunus adalah Operasi Merah di tubuh BAIS TNI. Dosen di bidang Kriminologi itu juga tidak menutup kemungkinan bahwa ada petinggi TNI yang terlibat dalam Operasi Merah ini.

Namun pertanyaannya apakah aparat mampu mengusut kasus ini hingga ke petinggi TNI, Reza pun meyakini hal itu dapat terungkap.

"Saya ingat-ingat lagi, pada sekian banyak peristiwa, TNI punya kesanggupan menindak pelaku misconduct hingga ke level perwira tinggi. Ini kontras jika kita bandingkan dengan penanganan kasus Novel Baswedan, misalnya," bebernya.

Sebanyak empat prajurit TNI telah diamankan diduga terkait penyiraman air keeas kepada Wakil Koordinator KontraS Andrie Yunus. 

Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) TNI Mayjen Yusri Nuryanto mengatakan keempat prajurit dari Angkatan Laut dan Angkatan Udara tersebut diserahkan oleh Detasemen Markas Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI pada Rabu (18/3/2026) pagi kepada Puspom TNI.

Ia mengatakan keempat prajurit yang belum ditetapkan tersangka itu merupakan personel Detasemen Markas BAIS TNI. Jadi inisialnya NDP pangkatnya Kapten, SL pangkatnya Lettu, inisial BHW pangkatnya Lettu, dan yang terakhir inisial ES pangkatnya Serda," kata Yusri saat konferensi pers di Markas Besar TNI, Jakarta pada Rabu (18/3/2026).

Diberitakan sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah memastikan penyelidikan internal terkait dugaan keterlibatan prajurit dalam kasus penyiraman air keras Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, akan dilakukan secara transparan.

"Kita akan profesional dan akan kita lakukan secara transparan. Artinya sesuai dengan peraturan perundangan yang ada di lingkungan TNI," kata Aulia di Balai Media TNI, Jakarta pada Selasa (17/3/2026).

Aulia mengatakan internal TNI saat ini tengah bekerja menggunakan metode-metode khusus yang dimiliki oleh institusi militer. Dia menjamin proses penyelidikan akan dilakukan secara cermat tidak mengambil kesimpulan secara terburu-buru.

"Sehingga ini kita akan lakukan secara profesional, tidak gegabah. Ya artinya metode-metode yang ada di lingkungan kami di TNI, aparat penegak hukum sekarang sedang bekerja," ujarnya.

Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI menegaskan mereka kini ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Militer Super Maximum Security (sistem keamanan tingkat tertinggi dengan pengawasan ekstra ketat) milik Polisi Militer Kodam (Pomdam) Jaya, Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan.

"Jadi sekarang para tersangka sudah kita amankan, sudah kita lakukan pemeriksaan di Puspom TNI. Dan nanti untuk terkait tempat penahanannya, kita akan melakukan penahanan dititipkan di Pomdam Jaya, di sana ada tahanan Super Maximum Security," kata Komandan Puspom (Danpuspom) TNI, Mayjen Yusri Nuryanto, saat konferensi pers di Markas Besar TNI Cilangkap Jakarta Timur pada Rabu (18/3/2026).

Tak hanya mengamankan pelaku lapangan, Puspom TNI kini mulai membidik aktor intelektual yang memberikan instruksi.

"Terkait perintahnya siapanya itu, nanti masih akan kita dalami. Perlu pengumpulan saksi dan bukti-bukti yang ada," ujarnya.

sumber: tribun jakarta

Posting Komentar untuk "Bais TNI Terlibat Kasus Air Keras Ungkap Reza Indragiri, Jejak Berantakan"