Donald Trump memaksa dan menuntut agar Iran segera menghentikan total program nuklirnya dan menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya kepada pihak ketiga.
Tuntutan ini memicu sorotan internasional atas standar ganda arsitektur nonproliferasi nuklir di Timur Tengah, mengingat AS secara konsisten membiarkan sekutu utamanya, Israel, mempertahankan statusnya sebagai kekuatan nuklir de facto di kawasan tersebut.
Gedung Putih menyatakan bahwa penghentian aktivitas nuklir Iran merupakan syarat mutlak dan prioritas tertinggi demi mencegah terjadinya eskalasi militer skala penuh.
Di sisi lain, Washington tetap mempertahankan kebijakan pembelaannya terhadap doktrin keamanan Israel, termasuk hak negara tersebut untuk memiliki instrumen pertahanan strategis.
Pemerintah AS mendesak agar seluruh pasokan uranium yang diperkaya milik Iran dipindahkan ke luar negeri demi memastikan Teheran tidak memiliki kapasitas teknis untuk merakit hulu ledak nuklir dalam waktu dekat.
Donald Trump sempat melunakkan tuntutan dengan menyatakan bersedia menerima opsi moratorium atau penangguhan program nuklir Iran selama 20 tahun jika disertai komitmen jangka panjang yang nyata.
Namun, tuntutan agar materi nuklir sensitif tersebut diserahkan atau dipindahkan langsung mendapatkan penolakan mentah-mentah dari Teheran. Berdasarkan laporan media internasional, pihak Iran menegaskan hal-hal berikut:
- Teheran menyatakan bahwa pengayaan uranium adalah hak nasional yang sah untuk tujuan damai, seperti kebutuhan medis, energi, dan penelitian ilmiah.
- Pemerintah Iran menegaskan persediaan uranium milik mereka tidak akan dipindahkan ke negara mana pun dan menolak klaim sepihak AS mengenai konsesi penyerahan materi tersebut.
- Pihak Iran menuduh Washington mencoba mengamankan kepentingan politik lewat jalur diplomasi tanpa memberikan timbal balik atau pelonggaran sanksi ekonomi yang berarti.
Sikap tegas AS terhadap Iran berbanding terbalik dengan kebijakannya terhadap Israel. Sejak dekade 1960-an, Israel menjalankan kebijakan "ambiguitas strategis" (nuclear opacity).
Di mana mereka tidak pernah mengonfirmasi maupun membantah kepemilikan senjata nuklir, meskipun komunitas intelijen global meyakini Tel Aviv memiliki puluhan hingga ratusan hulu ledak nuklir.
Amerika Serikat secara historis mendukung posisi Israel ini dengan tidak mendesak Tel Aviv untuk menandatangani Perjanjian Nonproliferasi Nuklir (NPT).
Trump dan para pejabat tinggi Washington menilai kapasitas militer Israel, termasuk potensi nuklirnya, merupakan pilar stabilitas guna mengimbangi kekuatan musuh-musuh regionalnya di Timur Tengah.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri terus mendesak AS agar penguasaan material nuklir Iran menjadi target utama diplomasi maupun operasi militer.
Seraya menyebut bahwa keberadaan uranium Iran adalah ancaman eksistensial bagi negaranya.
Saat ini, proses negosiasi tidak resmi antara AS dan Iran masih difasilitasi oleh sejumlah mediator regional seperti Pakistan dan Oman.
Di lapangan, ketegangan tetap berada di level tertinggi seiring dengan blokade laut yang diterapkan oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Donald Trump memperingatkan bahwa "waktu terus berjalan" dan serangan militer skala besar dapat diluncurkan sewaktu-waktu jika Teheran menolak proposal perdamaian yang diajukan Washington.
Sebaliknya, militer Iran menyatakan bahwa gertakan tersebut tidak akan membuat mereka tunduk dan menegaskan kesiapan penuh untuk merespons setiap agresi dengan kekuatan militer mereka

Posting Komentar untuk "Trump Memaksa Iran Serahkan Seluruh Uranium Nuklir Bila Tak Ingin Hancur"