Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Aksi Serentak Mahasiswa Yang Menuntut Pencopotan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo


Jakarta Media Duta, - GELOMBANG aksi serentak yang menuntut pencopotan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, memasuki babak baru pada awal Juli 2026.

 Momentum itu ditandai dengan aksi simbolik "perkabungan" bertepatan dengan peringatan Hari Bhayangkara ke-80, sebagai bentuk protes terhadap kondisi reformasi kepolisian yang dinilai mengalami kemunduran.

Aksi tersebut digerakkan oleh aliansi mahasiswa yang menyoroti kegagalan reformasi kepolisian di bawah kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. 

Dalam demonstrasi bertajuk #Matinya ReformasiPolri yang digelar di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Rabu (1/7/2026), ratusan mahasiswa dari organisasi BEM UI turun ke jalan dengan mengenakan pakaian serba hitam.

Massa juga membawa atribut simbolik berupa keranda bambu dan karangan bunga sebagai representasi "matinya reformasi" di tubuh Polri.

 Namun, langkah mereka menuju depan Mabes Polri terhenti setelah diadang aparat di sekitar kawasan Gedung ASEAN, Jalan Trunojoyo.

Ketegangan pun sempat pecah di lokasi. Aksi saling dorong dan tarik-menarik antara mahasiswa dengan aparat tak terhindarkan setelah massa kecewa atas pengadangan tersebut. 

Sejumlah atribut aksi, termasuk keranda dan karangan bunga, dilaporkan rusak akibat penarikan paksa oleh petugas di lapangan. Sebagai bentuk protes, mahasiswa sempat menutup sebagian ruas jalan di kawasan tersebut.

Dalam tuntutannya, massa mendesak Presiden Prabowo Subianto segera mencopot Kapolri. 

Mereka menilai kepemimpinan Listyo Sigit gagal membendung kultur kekerasan di institusi kepolisian, maraknya dugaan korupsi internal, serta tindakan represif aparat di tingkat bawah.

Berbarengan dengan peringatan Hari Bhayangkara ke-80, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Kepolisian turut menyuarakan kritik keras.

 Mereka menilai komitmen reformasi yang sebelumnya dijanjikan pemerintah pasca-serangkaian kasus kekerasan aparat tahun lalu, hanya sebatas "reformasi semu".

Koalisi itu juga secara tegas menolak draf revisi Undang-Undang Polri yang dinilai berpotensi memperluas kewenangan kepolisian ke ranah sipil, tanpa mekanisme pengawasan eksternal yang memadai.

Menanggapi tekanan publik yang terus meluas hingga kawasan Monas dan sejumlah daerah lainnya, Kapolri Listyo Sigit Prabowo memberikan arahan langsung saat upacara Hari Bhayangkara di Cikeas.

 Dalam pernyataannya, ia mengeklaim Korps Bhayangkara tengah mengubah paradigma pengamanan unjuk rasa menjadi lebih humanis.

Meski demikian, Kapolri menegaskan bahwa aparat tetap akan mengambil tindakan tegas terhadap massa, apabila terjadi tindakan anarkis yang mengganggu ketertiban umum.

Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto dikabarkan telah memanggil Kapolri ke Istana Negara guna meminta laporan komprehensif mengenai situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di seluruh Indonesia. 

Pemerintah disebut tengah memantau perkembangan gelombang protes yang diperkirakan masih akan terus berlanjut sepanjang Juli 2026.

Sejumlah pengamat menilai eskalasi protes mahasiswa ini, mencerminkan akumulasi kekecewaan publik terhadap institusi kepolisian, yang dinilai belum sepenuhnya berbenah.

 Jika tuntutan reformasi substantif tidak segera direspons, gelombang aksi diprediksi akan semakin meluas dalam beberapa pekan mendatang.(")

Posting Komentar untuk "Aksi Serentak Mahasiswa Yang Menuntut Pencopotan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo"