Perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran disebut telah menjadi titik balik dalam hubungan Washington dengan Arab Saudi.
Menurut laporan The New York Times, konflik tersebut mendorong Riyadh mengambil kebijakan luar negeri yang semakin mandiri dan tidak lagi selalu sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat.
Menurut sejumlah pengamat, penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah mengubah cara pandang negara-negara Teluk terhadap konflik.
Arab Saudi disebut kehilangan kepercayaan bahwa Amerika Serikat mampu menjamin keamanan mereka. Riyadh bahkan menilai jika wilayah udaranya dipakai oleh AS, Iran akan menjadikan kerajaan itu sebagai sasaran serangan yang lebih besar.
Peristiwa tersebut mencerminkan semakin lebarnya perbedaan pandangan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi mengenai strategi menghadapi Iran dan Israel.
Di mata Riyadh, Washington kini dinilai semakin sulit diprediksi dan dalam beberapa situasi justru dianggap dapat meningkatkan risiko keamanan kawasan Teluk.
Sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari, Arab Saudi berusaha menjaga keseimbangan. Di satu sisi, kerajaan tetap memberikan dukungan militer dan diplomatik kepada Washington, tetapi di sisi lain juga menjadi sasaran serangan Iran.
Ketika menilai tindakan Amerika dan Israel berpotensi memperburuk keadaan, Riyadh tidak ragu mengambil posisi yang berbeda dari sekutunya tersebut.
Laporan itu juga menyebut Mohammed bin Salman sempat menyampaikan kepada Trump mengenai risiko perang sebelum konflik pecah.
Belakangan, menurut sumber pejabat AS, ia pernah mendorong Washington agar melanjutkan operasi untuk menggulingkan pemerintahan Iran, meski klaim tersebut dibantah oleh pihak Saudi.
Namun ketika konflik berkepanjangan dan posisi Iran tetap kuat, Riyadh mulai mendorong penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Puncak dari perbedaan pandangan itu terjadi saat pemerintahan Presiden Donald Trump meluncurkan Project Freedom, sebuah operasi untuk mengawal kapal-kapal dagang melintasi Selat Hormuz setelah Iran menutup jalur pelayaran tersebut.
Meski telah diumumkan sebagai misi penting, operasi itu langsung menghadapi hambatan ketika Arab Saudi menolak memberikan izin penggunaan wilayah udaranya.
Keputusan Saudi memicu komunikasi darurat di tingkat tertinggi. Trump beberapa kali menelepon Putra Mahkota Mohammed bin Salman dalam upaya membujuknya.
Wakil Presiden JD Vance, utusan Timur Tengah Steve Witkoff, Jared Kushner, hingga penasihat keamanan nasional Marco Rubio juga ikut melakukan pendekatan kepada pemerintah Saudi.
Namun, Mohammed bin Salman tetap bersikukuh. Menurut laporan itu, ia khawatir operasi tersebut justru akan memicu kembali perang dengan Iran dan meningkatkan ancaman terhadap keamanan kawasan Teluk.
Akibatnya, Project Freedom dihentikan kurang dari 48 jam setelah dimulai, menjadikannya simbol paling nyata dari semakin lebarnya perbedaan strategi antara Washington dan Riyadh.
The New York Times menyebut sejak perang pecah, Arab Saudi mulai memandang Amerika Serikat sebagai mitra yang tidak dapat diandalkan.
Riyadh juga khawatir kebijakan Washington dan Israel justru dapat menyeret negara-negara Teluk ke dalam konflik yang lebih luas.
Karena itu, Arab Saudi memilih memperluas kerja sama dengan negara lain seperti China dan Pakistan, sekaligus memperkuat jalur komunikasi langsung dengan Iran setelah hubungan diplomatik kedua negara dipulihkan pada 2023.
Bagi kepemimpinan Saudi, isu seperti keamanan Selat Hormuz, kemampuan rudal Iran, dan pengaruh kelompok-kelompok bersenjata di kawasan kini menjadi perhatian yang lebih mendesak dibandingkan persoalan program nuklir Iran.
Kini, ketika pemerintahan Trump berupaya merundingkan kesepakatan baru dengan Iran setelah gencatan senjata awal, Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya mendesak adanya jaminan yang dapat melindungi mereka jika perang kembali pecah.
Riyadh juga masih meragukan komitmen Amerika Serikat untuk membela sekutunya, terutama setelah pengalaman pada 2019 ketika Trump tidak membalas serangan terhadap fasilitas minyak Saudi yang dituding dilakukan Iran.(*)

Posting Komentar untuk "Arab Saudi Sudah Memahami, Bahwa Amerika Mitra Selama Ini Ternyata Tak Bisa Diandalkan"