“Mereka berangkat dengan selembar harapan di pundak, menahan lapar dan dingin berdua saja… tapi akhirnya yang tersisa hanyalah luka yang membekas selamanya, saat tangan yang dulu menggenggam erat kini justru menusuk dari belakang.”
Sukarjo berusia 32 tahun, istrinya Lasmini baru menginjak 29 tahun. Berdua mereka meninggalkan kampung halaman di Semarang, merantau ke Jakarta dengan bekal hanya tekad dan doa. Hidup di tanah perantauan terasa sangat berat dan menderita.
Hari-hari dijalani dengan kekurangan: makan seadanya, tidur di kontrakan sempit yang bocor saat hujan, dan belum dikaruniai anak sama sekali.
Namun meski serba kekurangan, mereka saling menyemangati, percaya bahwa kesabaran akan membuahkan kebahagiaan suatu hari nanti.
Untunglah, akhirnya Sukarjo mendapatkan pekerjaan. Ia diangkat menjadi supir sekaligus pembantu rumah tangga di kediaman Hj. Maysaroh, seorang janda berusia 41 tahun.
Awalnya segalanya berjalan biasa saja. Sukarjo bekerja rajin, pulang membawa rezeki untuk istri tercinta. Namun tak disangka, perubahan perlahan mulai terjadi.
Suatu hari, Hj. Maysaroh mengeluh badannya terasa pegal dan memerintahkan Sukarjo untuk memijatnya.
Karena merasa memiliki sedikit kemampuan memijat, Sukarjo pun menuruti perintah itu. Sejak saat itu, pemijatan dilakukan secara rutin setiap hari.
Di balik pintu yang tertutup rapat, keintiman tumbuh dan berubah menjadi hubungan terlarang.
Setiap hari, di saat seharusnya ia bekerja dengan jujur, Sukarjo justru melakukan perzinahan dengan majikannya sendiri.
Nasib menyedihkan menimpa Lasmini. Suatu siang, ia datang ke rumah itu dengan perasaan bahagia—ia baru saja mengetahui dirinya mengandung buah hati yang selama ini dinanti.
Tanpa sengaja ia membuka pintu kamar mandi, dan matanya terpaku melihat kenyataan paling pahit yang tak pernah ia bayangkan: suaminya sedang berduaan mesra dengan Hj. Maysaroh.
Dunia Lasmini seolah runtuh seketika. Harapan yang ia bangun bertahun-tahun hancur berkeping‑keping.
Alih‑alih meminta maaf, Sukarjo justru mengambil keputusan yang lebih kejam. Dengan hati yang sudah membatu, ia menikahi Hj. Maysaroh secara diam‑diam tanpa pernah menceraikan Lasmini.
Bahkan lebih menyakitkan lagi, Lasmini yang hamil itu justru dipaksa menjadi pembantu di rumah itu sendiri.
Setiap hari ia harus melihat tingkah laku mesra suaminya dengan istri barunya, menahan air mata dan menelan rasa malu yang teramat dalam.
Tak sanggup lagi menahan derita batin yang menyiksa jiwa dan raga, Lasmini akhirnya mengambil keputusan berat. Di tengah malam yang sunyi, dengan perut yang mulai membesar dan hanya membawa pakaian seadanya, ia melarikan diri meninggalkan rumah itu.
Pergi tanpa tujuan yang jelas, hanya membawa luka mendalam, janji yang dikhianati, dan masa depan yang kini terasa begitu kelam.
“Yang paling menyiksa bukanlah hidup dalam kekurangan… melainkan hidup bersama orang yang kau cintai, namun melihat hatinya berpaling, lalu ditinggalkan dalam keadaan paling lemah hanya karena harta dan kenikmatan sesaat.”

Posting Komentar untuk "Ketika Pengorbanan Di Rantau Berakhir Dari Penghianatan Yang Menyakitkan"