Ada saatnya dalam hidup ketika kita merasa ingin mengatakan semua yang ada di dalam hati. Kita ingin meluapkan kekecewaan, membalas ucapan yang menyakitkan, atau menyampaikan pendapat tanpa menyisakan apa pun.
Sekilas, kejujuran seperti itu tampak sebagai keberanian.
Namun seiring bertambahnya kedewasaan, kita mulai memahami bahwa tidak setiap kebenaran harus disampaikan dengan cara yang melukai.Ada kebijaksanaan yang lebih tinggi daripada sekadar berkata apa adanya, yaitu kemampuan menjaga lisan agar tidak menjadi sebab terluka hati orang lain.
Lisan adalah anugerah yang mampu membangun sekaligus menghancurkan. Dengan satu kalimat, seseorang dapat menguatkan hati yang hampir putus asa.
Namun dengan satu kalimat pula, ia dapat meninggalkan luka yang bertahan jauh lebih lama daripada luka fisik.
Ironisnya, kata-kata yang telah terucap tidak pernah bisa ditarik kembali. Permintaan maaf mungkin dapat diberikan, tetapi bekasnya sering tetap tinggal di dalam ingatan.
Karena itu, orang yang bijaksana tidak hanya bertanya, "Apakah ini benar?" tetapi juga, "Apakah ini perlu diucapkan, dan apakah cara menyampaikannya akan membawa kebaikan?"
Menahan diri bukan berarti memendam semua perasaan atau membiarkan ketidakadilan terus terjadi.
Ada keadaan ketika kita memang harus berbicara, menyampaikan kebenaran, atau menegur kesalahan. Namun bahkan dalam keadaan itu, adab tetap harus mendahului emosi.
Kebenaran yang disampaikan dengan penghinaan sering ditolak, sedangkan nasihat yang disampaikan dengan kelembutan lebih mudah diterima.
Menjaga perasaan orang lain bukan berarti mengorbankan kejujuran, melainkan memilih cara yang lebih bijaksana agar kejujuran itu menghadirkan manfaat.
Sering kali yang paling sulit bukan mengendalikan orang lain, melainkan mengendalikan diri sendiri. Menahan satu kalimat yang bisa menyakiti membutuhkan kekuatan yang lebih besar daripada mengucapkannya.
Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengalah dari perdebatan yang tidak bermanfaat, kesabaran untuk tidak membalas ucapan yang kasar, dan kebijaksanaan untuk menyadari bahwa tidak semua isi hati harus menjadi kata-kata.
Diam yang lahir dari kasih sayang terkadang lebih bermakna daripada ucapan yang lahir dari kemarahan.
Pada akhirnya, kematangan seseorang tidak hanya terlihat dari keberaniannya berbicara, tetapi juga dari kemampuannya menjaga lisan.
Semakin dewasa, kita akan memahami bahwa memenangkan hati manusia jauh lebih berharga daripada memenangkan perdebatan.
Sebab kata-kata yang baik dapat menjadi sedekah, sementara kata-kata yang menyakitkan dapat menjadi penyesalan yang panjang.
Maka jagalah lisan dengan penuh hikmah, karena terkadang menahan satu ucapan demi menjaga hati orang lain adalah bentuk kemuliaan yang jauh lebih besar daripada sekadar meluapkan seluruh isi hati.

Posting Komentar untuk "Menahan Diri Berbuat Seseorang Tak Tersinggung Karena Lisanmu Lebih Mulia"