Media Duta,- - Pemimpin Tertinggi Iran saat ini, Mojtaba Khamenei, dipastikan tidak akan menghadiri prosesi pemakaman ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang digelar besar-besaran di Iran selama sepekan mulai Jumat (4/7/2026).
Informasi itu disampaikan langsung oleh perwakilan Iran di India, Ayatollah Hakim Elahi. Dalam keterangannya kepada media, Elahi menyebut alasan keamanan menjadi faktor utama di balik absennya Mojtaba dalam prosesi pemakaman kenegaraan yang akan berlangsung mulai 4 hingga 9 Juli 2026 tersebut.
Menurutnya kehadiran Mojtaba Khamenei di ruang publik dinilai terlalu berisiko di tengah ancaman serangan dan operasi intelijen Israel.
“Ancaman dan risiko pengawasan Israel membuat kehadiran publik Mojtaba menjadi berbahaya,” ujar Elahi seperti dilaporkan kantor berita The Statesman.
Keputusan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran Iran terhadap kemungkinan operasi intelijen maupun serangan baru dari Israel.
Apalagi, hingga kini hubungan Iran dan Israel masih berada dalam situasi yang sangat tegang meski perang besar di Timur Tengah mulai mereda.
Selain alasan keamanan, sejumlah analis menilai absennya Mojtaba juga berkaitan dengan upaya Iran menjaga stabilitas politik dalam negeri. Sebagai pemimpin baru Iran, Mojtaba dianggap menjadi target bernilai tinggi bagi musuh-musuh Teheran.
Kehadirannya di tengah kerumunan jutaan pelayat dikhawatirkan membuka celah bagi kemungkinan serangan, sabotase, maupun pengawasan intelijen asing.
Mojtaba Khamenei sendiri diketahui belum pernah muncul di depan publik sejak diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan ayahnya yang tewas pada 28 Februari 2026 lalu.
Pemakaman Ali Khamenei Jadi Sorotan Dunia
Mengutip dari The Hill Ayatollah Ali Khamenei tewas pada 28 Februari 2026 setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel menghantam Iran dan memicu perang besar di kawasan Timur Tengah.
Khamenei meninggal dunia setelah memimpin Republik Islam Iran selama 36 tahun. Selama masa kepemimpinannya, ia dikenal sebagai figur paling berpengaruh dalam politik, militer, dan ideologi Iran, sekaligus menjadi simbol spiritual utama bagi jutaan Muslim Syiah di berbagai negara.
Karena pengaruh besar tersebut, pemerintah Iran kini mempersiapkan seremoni pemakaman dalam skala raksasa yang diperkirakan akan menjadi salah satu acara kenegaraan terbesar dalam sejarah modern Iran.
Rangkaian upacara pemakaman akan dimulai di Teheran pada 4 Juli 2026. Setelah itu, prosesi dilanjutkan ke kota suci Qom pada 7 Juli sebelum akhirnya jenazah dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, pada 9 Juli mendatang.
Mashhad sendiri merupakan salah satu kota suci paling penting bagi umat Syiah di Iran.
Pemerintah Iran memperkirakan jutaan warga akan turun ke jalan selama enam hari rangkaian pemakaman berlangsung.
Jumlah pelayat diprediksi mencapai puluhan juta orang yang datang dari Iran maupun berbagai negara Muslim lainnya.
Sejumlah kota besar di Iran kini dipenuhi poster dan papan reklame raksasa bergambar Ali Khamenei. Pengamanan ketat juga diterapkan di berbagai lokasi penting menjelang prosesi pemakaman.
Iran bahkan menetapkan status keamanan tinggi karena khawatir adanya ancaman serangan baru dari pihak luar, terutama Israel. Spekulasi mengenai jadwal pemakaman sebenarnya sudah berkembang sejak Maret lalu.
Dalam ajaran Islam, jenazah umumnya dimakamkan secepat mungkin, idealnya dalam waktu 24 jam. Namun dalam kasus Khamenei, prosesi ditunda selama beberapa bulan karena kondisi perang dan faktor keamanan nasional.
Pemerintah Iran menilai situasi pada saat itu belum memungkinkan untuk menggelar acara besar yang melibatkan jutaan massa.
Gencatan Senjata Iran-AS Masih Rapuh
Di tengah persiapan pemakaman, hubungan Iran dan Amerika Serikat masih berada dalam situasi yang belum stabil meski kedua negara telah menandatangani kesepakatan damai bulan lalu.
Ketegangan baru sempat muncul setelah Iran menargetkan sebuah kapal dagang di Selat Hormuz yang dianggap menyimpang dari jalur pelayaran yang telah ditentukan.
Sebagai balasan, Komando Pusat Amerika Serikat mengklaim telah menyerang 10 target militer Iran.
Situasi semakin memanas ketika Iran meluncurkan serangan ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain yang memicu kecaman dari kedua negara Teluk tersebut.
Meski demikian, intensitas baku tembak antara kedua pihak dilaporkan mulai menurun dalam beberapa hari terakhir.
Pada Kamis, Qatar dan Pakistan menggelar pertemuan terpisah dengan negosiator Iran dan Amerika Serikat di Doha.
Pembicaraan tersebut disebut menghasilkan “kemajuan positif” terkait pembahasan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) 14 poin yang menjadi dasar proses perdamaian baru di kawasan Timur Tengah.
Perundingan itu dinilai penting untuk menjaga gencatan senjata tetap bertahan sekaligus mencegah pecahnya kembali konflik besar di kawasan.
Penulis: Namira Yunia Lestanti
Editor: Garudea Prabawati

Posting Komentar untuk "Takut Jadi Target Israel, Mojtaba Khamenei Pilih Absen di Pemakaman Ayahnya"