Makassar Media Duta,- Sekitar tahun 80 an dunia jurnalistik bagi saya sangat mengasikkan. Kenapa ? Waktu itu tidak sedikit gonjang ganjing politik mewarna kehidupan Indonesia dan memunculkan riak ditengah kehidupan bangsa ini.
Terjadi peristiwa demi peristiwa, terutama diahir pemerintahan Orde Baru dimana Soeharto memimpin negara Indonesia selama 32 tahun.
Dimasa itu selama 32 tahun kehidupan berbangsa masyarakat banyak yang mengakui kepemimpinan Soeharto cukup aman. Kepemimpinan Soeharta kala itu memiliki Visi Misi yang jelas dan terarah.
Sepanjang 32 tahun hampir tidak keluhan masyarakat berlebihan. Keamanan negara cukup terjamin. Kekehawatiran masyarakat terhadap kejahatan jalanan hampir tidak ada yang menghawatirkan.
Hampir semua pucuk kepemimpinan di era Soeharto, diduduki oleh TNI. Mulai Kepala Desa, Camat, Bupati diduduki dari unsur tentara atau militer dan cukup terorganisir.
Siapapu waktu itu mencoba menantan atau melawan kebijakan pemerintah akan dilibas habis. Tetapi disini selama kepemimpinan Soeharto, dunia pers merasa tidak ada ruang kebebasan.
Setiap pemberitaan yang mengoreksi kebijakan pemerintah akan diberi peringatan. Edialisme wartawan yang keritis dikebiri.
Jalan untuk membukam media yang dianggap sering membangkan mengenai jalannya penerintaha dan dianggap mengganggu stabilitas negara diberi peringatan keras dan bahkan tidak sedikit yang ducabut ijinnya atau diberidel.
Begitulah Indobesia saat itu berjalan dalam genggaman Orde Baru, tetapi tidak sedikit yang sangat menyukai kepemimpinan Soeharto karena Indonesia aman dari ganggaung kejahatan jalanan.
Tetapi juga pada ahirnya ada masa ahirnya setelah terjadi gerakan Reformasi 1989. Gerakan peoplipower inilah yang menghentika Soeharto sebagai Presiden yang mengundurkan diri karena beratnya tekanan.
Beberapa tahun sebelum tumbang sudah terlihat riak - riak ditengah - tengah kehidupan bangsa. Letupan - letpan kecil terkadang tiba - tiba muncul dan sangat mengganggu.
Seperi kerusuhan di Jakarta, Surabaya, Nedan, Makassar dan sejumlah kota - kota lainnya. Waktu itu saya baru beberapa tahun menggeluti dunia jurnalistik dan dari situlah bagaimana saya merasakan menjalani kehidupan wartawan yang hampir setiap saat dipertemukan dengan berbagai peristiwa menarik sebagai liputan jurnalistik.
Membidik momen yang menantang dengan sebuah kamera besar itu sangat mengasykkan. Era sekarang terasa beda dengan era tahun 80 an, dimana saat itu belum dikenal media online atau media sosial laimnya yang sangat mudah diakses.
Tetapi bekerja pada media cetak ada keadyikkan tersendiri yang tidak akan dirasakan di èra digitalisasi. Peliputan pada jaman media cetak selalu membangkitkan naluri wartawan dengan semangat tinggi.
Penugasan investigasi, peliputan terbuka dan perjalan jurnalistik untuk penulisan picer semua itu mendatangkan rasa puas sebagai wartawan.
Pesan saya lewat buku yang ada di tangan pembaca, utamanya bagi rekan - rekan jurnalistik, jangan menjadi wartawan kalau ada rasa takut berhadapan dengan situasi sulit dan menantang ?
Sejumlah pristiwa berdarah atau kerusuhan yang pernah terjadi di Makassar, menjadi liputan saya yang menggerogotu nyali saya.
Dalam kondisi yang menakutkan karena amuk nassa seperti yang terjadi dalam kerusuhan Benny Tarra, yang berubah menjadi kerusuhan rasial merupakan peristiwa uji nyali.
Kedua kasus helm yang menelan sejumlah korban jiwa tidak kalah ketegangannya. Kanera wartawan menjadi rampasan oknum mahasiswa sebeberapa yang dialami wartawaan saat itu yang meliput.
Saya pun nyaris menjadi korban perampasan kamera setelah saya membidik kumpulan massa yang beringas merampas helm dari pengandara di jalan Andi Pangeran Pettarani.
Saya lolos karena buburu menyelundupkan kamera kedalam ransel punggung. Beberapa bulan lalu di awal tahun 2026, menjelang sore hari saya tertarik untuk mencoba terjun meliput demo dari sejumlah mahasiswa UNEM didepan kantor Porestabes Makassar.
Tidak sedikit sorotan mata tertuju kepada saya dalam aksi saya memotret demo tersebut yang diwarnai bakar ban dan orasi - orasi yang keras dari mahasiswa.
Walaupun saat itu hanya menggunakan HP merek samsun ada rasa eforia dan mengingat masa era tahun 80 an yang sangat berbeda rasa.
Memang rasanya jauh beda dengan menggunakan kamera digital sejenis Canon atau tustel2 merek lainnya. Dalam liputan tersebut demonstran yang menuntut agar teman mahasis mereka kiranya dapat dilepaskan yg ditahan di Polrestabes karena sesustu kasus.
Saat itu ada beberapa mahasiswa mendekat dan menanyai saya secara lansung. " Bapak dari mana ? Tetapi tanpa saya jelaskan mereka pun sudah tau kalau saya adalah seorang jurnalis. ( ramli).

Posting Komentar untuk "TERINGAT ERA TAHUN 80 AN DUNIA JURNALISTIK SANGAT MENGASIKKAN"