Banyak guru berharap pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dikembalikan karena mereka melihat adanya kebutuhan mendesak akan penguatan karakter dan moral peserta didik.
Beberapa alasan utamanya antara lain:
Penanaman nilai sejak dini
PMP secara tegas dan terstruktur mengajarkan nilai Pancasila: kejujuran, tanggung jawab, gotong royong, toleransi, dan cinta tanah air. Guru merasa nilai-nilai ini kini kurang mendapat porsi khusus.
Kemerosotan sikap dan etika siswa. Banyak guru merasakan perubahan perilaku siswa: menurunnya sopan santun, empati, dan disiplin.
PMP dulu menjadi ruang khusus untuk membahas sikap, bukan hanya pengetahuan akademik.
Beban karakter tidak bertumpu pada satu mata pelajaran. Saat ini pendidikan karakter “diintegrasikan” ke semua mapel.
Dalam praktiknya, sering tidak maksimal karena guru fokus mengejar target materi. PMP dulu punya tujuan yang jelas: membentuk karakter. Identitas dan ideologi bangsa perlu penguatan.
Di tengah arus globalisasi dan pengaruh media sosial, guru khawatir generasi muda kehilangan arah dan jati diri bangsa. PMP dianggap benteng ideologis yang kuat.
Pendekatan yang lebih kontekstual dan reflektif
PMP tidak sekadar hafalan, tetapi diskusi nilai, studi kasus, dan pembiasaan sikap. Guru merasa pendekatan ini relevan dengan tantangan zaman.
Pengalaman nyata generasi sebelumnya. Banyak guru adalah “produk” pendidikan PMP dan merasakan dampaknya dalam kehidupan sosial.
Pengalaman ini membuat mereka percaya PMP efektif membentuk kepribadian.
Intinya, keinginan mengembalikan PMP bukan sekadar nostalgia, tetapi kerinduan pada pendidikan yang menyeimbangkan kecerdasan akademik dan moral, agar sekolah kembali menjadi tempat menumbuhkan manusia seutuhnya, bukan hanya pencetak nilai rapor.
Apakah bapak/ibu salah satu guru yang ingin kembalinya PMP?
#pendidikan #infoguru

Posting Komentar untuk "Mengapa Banyak Guru Yang Inginkan Pelajaran PMP Dikembalikan."