Media Duta,- Selama bertahun-tahun, Benjamin Netanyahu dikenal sebagai sosok yang berbicara dengan penuh keyakinan, keras, agresif, dan sering menampilkan citra bahwa Israel selalu berada di posisi paling dominan di Timur Tengah.
Dalam banyak pidatonya, Iran digambarkan seolah hanya ancaman yang tinggal dihancurkan oleh kekuatan militer modern, teknologi canggih, dan dukungan penuh sekutu Barat.
Bahkan menjelang perang, Netanyahu berulang kali memberi kesan bahwa operasi militer besar akan mampu melumpuhkan Iran dengan cepat, menghancurkan kemampuan misilnya, melemahkan pemerintahannya,
bahkan membuka jalan bagi perubahan rezim di Teheran.
Tetapi realitas perang ternyata tidak berjalan sesederhana pidato politik.
- Iran tidak runtuh
- Iran tetap berdiri.
Dan yang paling mengejutkan dunia…
- Iran mampu membalas.
Rudal-rudal balistik terus melintasi langit, menembus pertahanan, memukul wilayah strategis, memaksa sirene berbunyi tanpa henti, dan membuat masyarakat Israel mulai merasakan sesuatu yang selama ini jarang mereka rasakan:
" tekanan perang berkepanjangan...."
Di titik itulah, dunia mulai melihat perubahan.
Sosok Netanyahu yang dulu tampil penuh percaya diri, perlahan berubah lebih hati-hati, lebih defensif, dan mulai berbicara bahwa perang “belum selesai” karena target utamanya belum tercapai.
" Dalam geopolitik, keangkuhan sering muncul ketika sebuah kekuatan merasa mampu mengendalikan hasil perang sepenuhnya.
Namun sejarah selalu memiliki caranya sendiri untuk menguji kesombongan manusia...."
#perang #iranvdIsrael #fyp

Posting Komentar untuk "Ketika Rasa Keangkuhan Mulai Menghilang"