Selama 30 Tahun Netanyahu Terus Berbohong Soal Program Nuklir Iran, Kini Netanyahu Kembali Menggaungkan Ancaman Nuklir Iran yang Bersandar pada Klaim yang Belum Terverifikasi
Di saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampak semakin enggan membuka babak baru konfrontasi militer dengan Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali mengangkat isu yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari narasi politiknya: ancaman senjata nuklir Iran.
Dalam pidatonya pada upacara kenegaraan di Gunung Herzl, Yerusalem—bertepatan dengan pemakaman kembali kakek-nenek Theodor Herzl.
Tokoh pencetus gerakan Zionis—Netanyahu menyatakan bahwa Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Ahmad Vahidi, telah "secara eksplisit" menyatakan Iran akan terus mengembangkan senjata nuklir.
Pernyataan itu segera menarik perhatian. Sebab, jika benar diucapkan oleh seorang pejabat tinggi Iran, maka itu akan menjadi pengakuan publik yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Selama bertahun-tahun, Iran selalu menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil dan membantah memiliki ambisi mengembangkan senjata nuklir.
Sumber klaim tersebut ternyata hanya berasal dari Channel 14, stasiun televisi Israel yang dikenal dekat dengan Netanyahu.
Media itu mengutip Vahidi dengan pernyataan:
"Selama Amerika Serikat dan Israel masih memiliki senjata nuklir, kami akan terus mengembangkannya demi keamanan nasional kami. Jika mereka melucuti senjata mereka, kami juga akan melucuti senjata kami."
Channel 14 bahkan menyebut ini sebagai pertama kalinya seorang pejabat Iran mengakui hal tersebut secara terbuka.
Netanyahu kemudian menggunakan kutipan itu sebagai dasar untuk kembali menegaskan sikapnya.
"Presiden Trump adalah sahabat terbesar kami, sahabat terbaik yang pernah kami miliki di Gedung Putih.
Amerika Serikat adalah sekutu terbesar kami, dan kami sangat menghargai upaya bersama dalam menghadapi ambisi nuklir Iran.
Namun izinkan saya menegaskan: keberadaan Israel tidak bisa ditawar. Dengan atau tanpa adanya kesepakatan, saya tetap bertekad, dan kita semua bertekad, untuk melakukan apa pun yang diperlukan demi menjamin keamanan dan masa depan kami.
Hari ini kita mendengar Panglima Korps Garda Revolusi Iran secara tegas menyatakan niat Iran untuk terus mengembangkan senjata nuklir. '
Terus,' katanya. Sebagai Perdana Menteri Israel, saya juga sama teguhnya untuk terus mencegah Iran memperoleh senjata nuklir."
Namun, setelah ditelusuri, muncul sejumlah kejanggalan.
Tidak ada media pemerintah Iran, media yang berafiliasi dengan IRGC, maupun media independen Iran yang memuat pernyataan tersebut.
Media internasional besar juga tidak memberitakannya. Hingga kini, hanya Fox News yang turut mengutip laporan Channel 14.
Keraguan itu bahkan datang dari Israel sendiri.
Ynet melaporkan bahwa tidak ditemukan jejak pernyataan Vahidi di media Iran.
Menurut mereka, kutipan tersebut pertama kali beredar melalui unggahan berbahasa Inggris di media sosial, termasuk dari Channel 14 dan akun tidak resmi "Mossad Commentary", hanya beberapa jam sebelum Netanyahu menyampaikan pidatonya.
Tidak ada sumber primer yang dapat diverifikasi. Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz, kemudian ikut menyebarkan klaim tersebut.
Ynet juga mengingatkan bahwa ini bukan pertama kalinya Netanyahu melontarkan klaim dramatis mengenai program nuklir Iran. Sebulan sebelumnya, ia menyatakan Iran telah memiliki bom atom.
Pernyataan itu dibantah oleh politisi Israel Gadi Eisenkot, yang menilai klaim tersebut tidak sesuai dengan penilaian intelijen dan hanya bertujuan menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat.
Koresponden senior Timur Tengah i24NEWS, Ariel Oseran, juga menyampaikan keraguannya.
Menurutnya, tidak ada media resmi maupun media yang berafiliasi dengan IRGC yang pernah mempublikasikan pernyataan tersebut.
Ia mengakui bahwa hubungan Channel 14 dengan Netanyahu memang telah lama menjadi pengetahuan umum.
Meski demikian, Oseran menegaskan bahwa keraguannya terhadap kutipan itu bukan berarti ia menilai Iran tidak berupaya mengembangkan kemampuan senjata nuklir.
"Kemungkinan besar mereka memang mengupayakannya. Namun, apakah Ahmad Vahidi benar-benar pernah menyampaikan pernyataan itu secara terbuka masih diragukan," tulisnya.
Pandangan serupa disampaikan Editor Amwaj Media, Mohammed Ali Shabani.
Menurutnya, apabila seorang pejabat tinggi Iran benar-benar mengakui secara terbuka bahwa negaranya mengembangkan senjata nuklir, maka itu akan menjadi berita besar yang segera dikutip media di seluruh dunia.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tidak ada satu pun media Iran yang memuat pernyataan tersebut, sementara asal-usul kutipan itu hanya dapat ditelusuri ke sumber-sumber di Israel.
Shabani juga menyoroti waktu kemunculan kutipan tersebut. Menurutnya, klaim itu beredar tepat ketika muncul harapan akan tercapainya terobosan dalam perundingan mengenai Selat Hormuz, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai konteks politik di balik penyebarannya.
Selama hampir tiga dekade, Netanyahu berulang kali memperingatkan bahwa Iran "hampir" memiliki senjata nuklir.
Narasi itu telah menjadi bagian dari kampanye diplomatiknya sejak pertengahan 1990-an untuk mendorong Amerika Serikat mengambil sikap yang lebih keras terhadap Teheran.
Kini, ketika Trump tampak semakin berhati-hati untuk kembali terlibat dalam konflik langsung dengan Iran, Netanyahu kembali mengangkat isu yang sama.
Berasal dari kutipan yang hingga kini belum dapat diverifikasi secara independen, tidak memiliki sumber primer yang jelas, dan bahkan dipertanyakan oleh sejumlah jurnalis serta media di Israel sendiri.(*)

Posting Komentar untuk "Penundaan Serangan ke Iran Oleh Trump Bikin Netanyahu Prustrasi"