Media Duta,- Pemimpin dan bangsa Iran sangat percaya pada ayat ini, "Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.
(Qs. Al-Maidah: 3) karena itu mereka tidak pernah merasa pesimis atau khawatir bakal dikalahkan oleh orang-orang kafir. Syaratnya cukup takut pada Allah dan jangan takut pada permusuhan orang-orang kafir.
Dan itu terbukti, sejak berdiri menjadi Republik Islam Iran dan menjadikan keimanan pada janji-janji Allah di atas segalanya, Iran tidak pernah berhasil ditaklukkan orang-orang kafir.
Iran di embargo, diblokade, disanksi sampai diinvasi, Iran masih tetap berdiri sampai hari ini. Iya, banyak pemimpinnya yang terbunuh, namun itu bukan kekalahan, itu mereka yakini sebagai pengorbanan dan konsekwensi istiqamah di jalan Allah Swt.
Yang membuat Iran kewalahan justru bukanlah orang-orang kafir, melainkan persengkongkolan orang-orang munafik yang berada di pihak orang-orang kafir.
Lihat saja faktanya, Israel tidak akan bisa bertahan jika tidak ada koalisi Arab yang membantunya. Itu diakui sendiri oleh AS.
Iran mensuplai senjata ke kelompok perlawanan yang memerangi Israel, jalur suplai itu diputus dengan arab-arab munafik menguasai Suriah.
Suriah yang sebelumnya anti Zionis dibawa masuk ke poros kejahatan AS. Yaman memblokade Laut Merah untuk memutus jalur logistik dan senjata masuk ke Israel, Yaman diperangi Arab Saudi.
Tujuannya jelas, agar Laut Merah menjadi jalur aman suplai senjata buat Israel.
Dari masa Rasulullah saw, orang-orang munafik memang kerap menjadi benalu dan duri dalam tubuh umat Islam.
Satu surah khusus "Al-Munafiqun" turun untuk memaparkan akan bahayanya keberadaan mereka. Serangan Amerika dan Israel atas Iran telah membongkar kedok dan wajah asli kaum munafikin ini.
Mereka menjadi penyedia pangkalan militer untuk Iran diserang, mereka pula yang menjadi pelindung aset-aset AS dan Israel ketika Iran melancarkan serangan balasan.
Padahal jelas, ukuran keberislaman suatu negara itu tidak diukur dari seberapa panjang surban dan jubah pemimpinnya, melainkan ketika umat Islam diserang, di pihak mana ia berdiri?.
Sebab seseorang dapat berbicara tentang Islam tetapi membuka wilayahnya bagi kepentingan pihak yang menyerang Muslim.
Ia dapat mengaku bersaudara dengan Palestina tetapi menjaga kepentingan negara yang mempersenjatai Israel.
Ia dapat mengecam perang di depan kamera, tetapi di belakang layar memastikan jalur logistik, pangkalan, ruang udara, dan kepentingan strategis pihak agresor tetap aman.
Di situlah borok banyak penguasa Arab menjadi tampak dan kentara.
Al-Qur'an sejak awal mengingatkan bahwa bahaya tidak selalu datang dari musuh yang terang-terangan menunjukkan permusuhannya. Musuh yang terbuka mudah dikenali.
Yang jauh lebih berbahaya adalah mereka yang berbicara dengan bahasa kita, mengaku berada dalam barisan kita, tetapi ketika saat penentuan tiba, kekuatannya justru dipakai untuk melindungi kepentingan lawan.
Karena itu, serangan terhadap Iran bukan hanya membuka peta kekuatan militer kawasan. Ia juga membuka peta keberpihakan.
Kita menjadi tahu siapa yang benar-benar menolak dominasi Israel dan Amerika, siapa yang hanya mengeluarkan kecaman diplomatik, dan siapa yang diam-diam memastikan mesin perang Amerika dan Israel tetap dapat bekerja.
Satu hal yang bisa kita petik dari perang Iran vs Amerika-Israel adalah, Israel tidak hanya bertahan karena kekuatannya sendiri.
Ia bertahan karena ada tangan-tangan di kawasan yang mengaku bagian dari umat, tetapi setiap kali Zionisme berada dalam kesulitan, tangan-tangan itulah yang diam-diam bahkan saat ini telah terang-terangan ikut menopangnya.
Itulah sebabnya Al-Qur'an tidak hanya mengajarkan umat Islam untuk mengenali musuh di luar barisan, tetapi juga memperingatkan tentang kemunafikan di dalamnya.
Dan perang Iran, telah menampakkan dengan jelas siapa kelompok munafik itu. Sebab apa pernah dalam sejarah Islam, kelompok Islam dipimpin oleh Kafir Harbi?.
Kalau ada persekutuan pemimpin negara-negara Islam, tapi pemimpinnya adalah kafir harbi, maka satu saja kemungkinannya, itu barisan orang-orang munafik.
Dan keberadaan orang-orang munafik inilah yang membuat orang-orang kafir akhirnya kembali punya optimisme mengalahkan umat Islam.(*)

Posting Komentar untuk "Takutlah Kepada Allah Dan Jangan Takut Kepada Musuh Orang Kafir"