“Jangan turun, Mbak.”
Pak Hendra langsung mengunci pintu angkot ketika tiga petugas berseragam Dishub berdiri di tikungan Jalan Ahmad Yani, Semarang.
Aku menatapnya lewat kaca spion.
“Kenapa?”
Wajahnya pucat.
“Kalau mereka lihat penumpang, setorannya biasanya lebih mahal.”
Aku hampir mengira dia bercanda.
Aku, Laras, sedang cuti dua hari untuk menghadiri acara lamaran adikku. Aku sengaja naik angkot dari terminal karena tidak ingin dijemput mobil dinas Inspektorat Provinsi.
Di depan, seorang petugas bertubuh besar mengangkat tangan.“Berhenti!”
Pak Hendra menginjak rem.
Petugas itu membuka pintu samping tanpa salam.
“Turun.”
“Pak, surat saya lengkap.”
“Siapa tanya surat?”
Nada suaranya dingin.
Pak Hendra turun. Aku melihat dua petugas lain berdiri dekat motor dinas, tetapi tidak memasang papan pemeriksaan.
Tidak ada kamera. Tidak ada formulir razia.
Aku menyalakan perekam suara di ponsel dan memasukkannya ke saku.
Petugas besar itu menunjuk ban belakang.
“Banmu tipis. Muatan berlebih. Jalurmu juga bukan di sini. Bayar Rp750 ribu.”
Pak Hendra terkejut.
“Penumpang saya cuma satu, Pak.”
“Kalau mau debat, kendaraan saya tahan.”
“Rp750 ribu dari mana? Dari pagi saya baru dapat Rp180 ribu.”
Petugas itu mendekat.
“Transfer.”
Ia menunjukkan kode QR kecil yang dilaminasi.
Bukan rekening pemerintah.
Namanya: Koperasi Maju Bersama.
Aku memotret diam-diam dari balik kaca.
Di bawah kode QR ada tiga nominal yang sudah dicetak: Rp250 ribu, Rp500 ribu, dan Rp750 ribu. Tidak ada logo pemerintah, nomor surat, atau keterangan denda.
Aku mencatat semuanya di aplikasi catatan lalu mengirim salinannya ke surel kerjaku.
Pak Hendra menggeleng.
“Saya belum bayar cicilan sekolah anak.”
Petugas itu mencengkeram kerahnya.
“Jangan bikin saya ulang.”
Aku membuka pintu.
“Pak, dasar pungutannya apa?”
Semua mata beralih kepadaku.
Petugas itu menatap bajuku yang sederhana, lalu tertawa pendek.
“Penumpang jangan ikut campur.”
“Kalau resmi, keluarkan surat pelanggaran.”
Wajahnya berubah.
Ia menghampiri dan mengetuk ponselku dari tangan sampai jatuh ke aspal.
“Sekarang kamu rekam saya?”
Aku mengambil ponsel tanpa membalas.
Namanya terlihat di dada: Rudi Hartono.
Ia menarik tas Pak Hendra, membukanya, lalu memasukkan amplop hitam.
“Bawa dia ke pos. Kendaraannya kita tahan.”
Pak Hendra panik.
“Itu bukan punya saya!”
Aku menatap amplop itu.
Rudi tersenyum.
“Sekarang punya kamu.”
Dua petugas lain langsung memegang lengan Pak Hendra.
Aku berdiri di depan mereka.
“Jangan sentuh dia lagi.”
Rudi mendorong bahuku.
“Kamu mau ikut diamankan?”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya memotret nomor motor dinas, jam kejadian, dan kode QR itu.
Lalu seorang petugas muda tiba-tiba berbisik kepada Rudi.
“Pak… jangan yang ini.”
Rudi menoleh tajam.
Petugas muda itu menunjukkan layar ponselnya.
Di sana ada foto diriku dari sebuah grup internal.
Bukan foto sebagai penumpang.
Foto itu berada di bawah judul:
“DAFTAR ORANG YANG HARUS DIHINDARI SAAT OPERASI SETORAN.”
👉 Baca kelanjutan kisah lengkapnya di kolom komentar!

Posting Komentar untuk "Petugas Tarik Keluar Sopir Minta Dibayar Rp750 ribu, Padahal Sopir Baru Dapat Rp 180 ribu"