Media Duta,- Bayangkan Anda seorang perwira berprestasi di militer. Fisik Anda prima, loyalitas Anda teruji. Namun tiba-tiba, seorang intelijen mengawasi gerak-gerik Anda selama 24 jam.
Bukan karena Anda berkhianat, melainkan karena satu alasan sepele. Anak gadis Anda ikut pesantren kilat saat liburan sekolah.
Kedengarannya mustahil? Tapi inilah fakta sejarah kelam yang diungkap oleh Prof. Salim Said dalam bukunya, Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto.
Di era 1980-an, ketika tongkat komando ABRI dipegang oleh Jenderal Leonardus Benyamin (Benny) Moerdani, aroma kecurigaan terhadap perwira beragama Islam berada pada titik tertingginya.
𝐁𝐞𝐧𝐧𝐲 𝐌𝐨𝐞𝐫𝐝𝐚𝐧𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐫𝐚𝐧𝐨𝐢𝐚 𝐓𝐞𝐫𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩 𝐈𝐬𝐥𝐚𝐦
Benny Moerdani, jenderal intelijen legendaris berdarah Solo-Jerman, adalah seorang Katolik. Namun ia sendiri mengaku bukan penganut yang taat, ia sering disebut sebagai "Katolik abangan".
Meski begitu, di bawah komandonya, institusi militer mengalami pergeseran drastis. Ada ketakutan luar biasa terhadap apa yang dicap sebagai "fundamentalisme Islam".
Saking parahnya paranoia saat itu, perwira muslim yang ingin sekolah militer lanjutan harus melewati screening ideologi yang menjebak.
Salah satu pertanyaannya: "Apakah Anda bersedia jika anak gadis Anda dinikahi pria non-muslim?
" Jika perwira itu menjawab "Tidak" (sesuai hukum agamanya), maka tamatlah kariernya. Ia langsung distempel "fanatik", tidak diloloskan sekolah, dan kariernya dibekukan begitu saja.
𝐁𝐚𝐣𝐮 𝐊𝐨𝐤𝐨, 𝐒𝐚𝐣𝐚𝐝𝐚𝐡, 𝐝𝐚𝐧 𝐊𝐚𝐭𝐚 "𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧𝐭𝐫𝐞𝐧" 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐃𝐢𝐡𝐚𝐫𝐚𝐦𝐤𝐚𝐧
Kisah-kisah Ganjil Bermunculan di Barak-barak militer masa itu:
Try Sutrisno Ditegur Karena Baju Koko
Bahkan jenderal sekelas Try Sutrisno (saat menjabat Pangdam Jaya) tak luput dari teguran Benny. Dosanya?
Try melaksanakan salat Jumat mengenakan baju koko dan sarung. Bagi Benny, perwira yang salat harus tetap memakai seragam loreng dinas.
"TNI Tidak Mengenal Ini!"
Di markas baret merah (Kopassus), seorang komandan senior menginspeksi ruangan juniornya. Begitu melihat selembar sajadah tersampir di kursi, sang komandan membentak keras: "Apa ini?! TNI tidak mengenal ini!
Rapat staf pun konon sering sengaja digelar mepet waktu salat Jumat untuk mempersulit ibadah para perwira.
Alergi Kata "Iman dan Takwa"
Saat Marsekal Madya Ginanjar Kartasasmita memimpin rapat Komite Ad Hoc MPR, ia mendadak dipanggil Benny.
Sang Jenderal marah besar. Pasalnya, Ginanjar meloloskan kata "Pesantren" serta frasa "Iman dan Takwa" ke dalam draf GBHN.
Bagi Benny, memasukkan kata-kata itu sama berbahayanya dengan menghidupkan kembali Piagam Jakarta!
𝐓𝐞𝐫𝐬𝐢𝐧𝐠𝐤𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐊𝐚𝐮𝐦 "𝐒𝐚𝐧𝐭𝐫𝐢" 𝐝𝐢 𝐌𝐢𝐥𝐢𝐭𝐞𝐫
Diskriminasi ini bukan cuma soal simbol. Politisi Muslim Hartono Mardjono mencatat, dalam satu angkatan seleksi perwira Kopassus yang meloloskan 20 orang, 16 di antaranya non-muslim. Sisanya baru dibagi untuk Islam, Hindu, dan Budha.
Perwira berlatar belakang santri nyaris mustahil menembus puncak. Jenderal Feisal Tanjung, putra tokoh Muhammadiyah, harus rela "diparkir" menjadi Komandan Seskoad selama 4 tahun lamanya tanpa kejelasan karier, hingga rekan-rekannya mengira ia akan pensiun di sana.
𝐋𝐚𝐰𝐚𝐧 𝐁𝐚𝐥𝐢𝐤: 𝐋𝐚𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 "𝐀𝐁𝐑𝐈 𝐇𝐢𝐣𝐚𝐮" 𝐯𝐬 "𝐀𝐁𝐑𝐈 𝐌𝐞𝐫𝐚𝐡 𝐏𝐮𝐭𝐢𝐡"
Namun, tekanan yang begitu keras pada akhirnya memicu ledakan perlawanan dari dalam.
Menteri Agama saat itu, Jenderal Alamsyah, mulai bergerak membisiki para ulama bahwa Benny adalah ancaman, dengan tragedi Tanjung Priok sebagai bukti nyatanya.
Di sisi lain, seorang perwira muda yang sedang naik daun melihat celah ini. Dialah Kapten Prabowo Subianto.
Prabowo mulai menggalang kekuatan perwira-perwira muslim untuk melawan dominasi "klik Nasrani" bentukan Benny.
Polarisasi politik di tubuh militer pun pecah menjadi dua faksi legendaris: ABRI Hijau (faksi perwira Islam) dan ABRI Merah Putih (faksi loyalis Benny).
Roda nasib berputar. Ketika Benny Moerdani terang-terangan menentang pembentukan ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) dan mulai berjarak dengan Presiden Soeharto, kekuatannya perlahan dipreteli.
Feisal Tanjung yang dulu kariernya "dikunci" oleh orang-orang Benny, akhirnya justru diangkat Soeharto menjadi Panglima ABRI, menandai runtuhnya era hegemoni Jenderal Benny Moerdani.
Sejarah selalu meninggalkan jejak yang menarik untuk dipelajari. Bahwa di balik ketatnya disiplin militer masa Orde Baru, pertarungan ideologi, agama, dan intrik kekuasaan pernah bergulir begitu dingin di balik layar.
Bagaimana menurut Anda tentang babak sejarah militer kita yang satu ini? Silakan tulis pendapat Anda di kolom komentar!
(𝐵𝑎𝑔𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑢𝑙𝑖𝑠𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝐴𝑛𝑑𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑦𝑢𝑘𝑎𝑖 𝑐𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎-𝑐𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎 𝑠𝑒𝑗𝑎𝑟𝑎ℎ 𝑝𝑜𝑙𝑖𝑡𝑖𝑘 𝐼𝑛𝑑𝑜𝑛𝑒𝑠𝑖𝑎).

Posting Komentar untuk "𝐁𝐞𝐧𝐧𝐲 𝐌𝐨𝐞𝐫𝐝𝐚𝐧𝐢 𝐝𝐚𝐧 𝐏𝐚𝐫𝐚𝐧𝐨𝐢𝐚 𝐓𝐞𝐫𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩 𝐈𝐬𝐥𝐚𝐦"