Khairun Nisa hanyalah anak perempuan biasa yang bermimpi setinggi langit dan mencintai ibunya tanpa batas.
Di rumah kecil di Palembang, ia tak ingin terkenal, tak ingin kaya.Ia hanya ingin suatu hari ibunya bisa berkata,“Ini anakku.”Janji itu datang:
“Bisa jadi pramugari, asal ada biaya.”
Nisa ragu.Ibunya tidak.
Tabungan dikumpulkan, pinjaman diambil, perhiasan dijual. Uang Rp30 juta—uang yang disertai doa setiap malam.Hari Nisa berangkat, ibunya memeluk lama.
“Kalau lelah, pulang ya, Nak.
Ibu sudah bangga.”Tapi Jakarta mematahkan mimpi.
Nomor menghilang.
Janji lenyap.
Tak ada pekerjaan.
Tak ada seragam.
Yang tersisa hanya kamar sempit
dan rasa bersalah yang menyesakkan.
Nisa tak menangis karena uang, tapi karena wajah ibunya yang berharap.
Ia takut pulang.
Tak sanggup berkata,
“Bu, mimpiku hilang.”
Maka ia berbohong—
memakai seragam yang bukan miliknya,
tersenyum demi satu hal:
agar ibunya tetap percaya
pengorbanannya tak sia-sia.
Kini semua terbuka.
Orang menghakimi.
Padahal yang paling hancur
bukan hukum, melainkan hati seorang anak yang gagal menjaga harapan ibunya.
Nisa bukan penipu. Ia korban janji palsu dan mimpi yang diperjualbelikan.
Semoga kisah ini cukup perih
untuk mengingatkan kita:
jangan pernah menukar mimpi anak dengan uang.
Karena di balik mimpi yang runtuh, ada ibu yang menangis diam-diam, dan anak yang membawa rasa bersalah seumur hidupnya.

Posting Komentar untuk "Khairun Nisa Hanyalah Anak Perempuan Biasa Yang Bermimpi Setinggi Langit"