Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Kisah Cinta JK dan Ibu Mufidah: Jembatan Hati Antara Sulawesi dan Ranah Minangkabau

Di balik ketegasan Muhammad Jusuf Kalla (JK) dalam mengambil kebijakan negara, terselip sebuah kisah cinta legendaris yang menyatukan dua budaya besar nusantara.

 Kisah cinta antara putra Bugis dan putri Minang ini bukan sekadar romansa pribadi, melainkan simbol harmoni yang kokoh antara Sulawesi dan Sumatera Barat selama lebih dari 57 tahun.

Bagi masyarakat Minangkabau, Jusuf Kalla bukan hanya mantan Wakil Presiden RI dua periode, melainkan sosok "Sumando nan Elok"—seorang menantu teladan yang menjaga kehormatan keluarga dan tanah kelahiran istrinya.

Berawal dari Tatapan di Makassar

Kisah ini dimulai saat Hj. Mufidah Miad Saad, seorang gadis asal Lintau, Kabupaten Tanah Datar, mengikuti ayahnya yang bertugas di Makassar. 

Di sanalah, Jusuf Kalla muda, yang kala itu akrab disapa "Daeng Ucu", terpikat oleh keanggunan Mufidah.

Meski berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, nilai-nilai pendidikan dan ketaatan beragama menjadi benang merah yang menyatukan mereka. Pada 27 Agustus 1967, keduanya resmi mengikat janji suci.

 Sejak saat itu, JK secara resmi menyandang status sebagai menantu orang Minang, sebuah gelar yang ia emban dengan penuh kebanggaan hingga hari ini.

Sumando yang Membawa Spirit Diplomasi

Dalam tradisi Minangkabau, kedudukan seorang Sumando sangat dihormati. JK membuktikan diri sebagai menantu yang tidak hanya menyayangi istri, tetapi juga peduli pada kampung halaman sang belahan jiwa.

Banyak yang meyakini bahwa keluwesan JK dalam bernegosiasi dan menyelesaikan berbagai konflik besar di Indonesia merupakan perpaduan antara keberanian watak Bugis dan seni diplomasi yang ia serap dari lingkungan keluarga Minang.

 Bersama Ibu Mufidah, JK sering terlihat turun langsung ke Sumatera Barat, mulai dari urusan sosial, pembangunan masjid, hingga pengembangan kerajinan tenun khas Lintau yang sangat dicintai istrinya.

Kesetiaan di Panggung Nasional

Selama dua periode menjabat sebagai Wakil Presiden RI—mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2009) dan Joko Widodo (2014-2019)—sosok Ibu Mufidah selalu setia mendampingi di sampingnya.

 Kesederhanaan Ibu Mufidah sebagai istri pejabat tinggi negara sering kali dipuji sebagai cerminan perempuan Minang yang tangguh namun rendah hati.

Kesuksesan JK dalam memimpin berbagai organisasi besar seperti Golkar, Palang Merah Indonesia (PMI), hingga Dewan Masjid Indonesia (DMI), tidak lepas dari dukungan penuh sang istri. 

JK pernah berseloroh dalam sebuah kesempatan bahwa rahasia kekuatannya adalah dukungan keluarga yang harmonis.

Simbol Persatuan Nusantara

Pernikahan JK dan Ibu Mufidah adalah bukti nyata bahwa perbedaan suku bukanlah penghalang, melainkan kekayaan. 

Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai lima orang anak dan sepuluh orang cucu yang mewarisi darah perpaduan dua etnis pedagang dan intelektual hebat di Indonesia.

Kisah cinta mereka mengajarkan bahwa hubungan pusat dan daerah, atau satu suku dengan suku lainnya, dapat dijalin dengan indah melalui ikatan kekeluargaan. 

Bagi warga Sumatera Barat, JK akan selalu menjadi kebanggaan—seorang putra Sulawesi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga besar Ranah Minang.

Sumber: Dioleh dari Wikipedia Bahasa Indonesia Profil Jusuf Kalla 

Posting Komentar untuk "Kisah Cinta JK dan Ibu Mufidah: Jembatan Hati Antara Sulawesi dan Ranah Minangkabau "