Masih ingatkah pada tahun 2013, Indonesia diguncang sebuah peristiwa berdarah yang menyeret nama seorang prajurit elite Kopassus, Serda Ucok Tigor Simbolon.
Kasus ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan kisah balas dendam yang lahir dari rasa kehilangan, loyalitas, dan kemarahan yang tak terbendung.
Semua bermula pada 19 Maret 2013, sekitar pukul 02.30 WIB, di Hugo’s Cafe, Jalan Adisucipto, Sleman.Malam itu, Serka Heru Santoso, anggota Kopassus, terlibat keributan dengan sekelompok preman yang dipimpin Dicky Ambon. Senggolan kecil di meja bar berubah menjadi pengeroyokan brutal.
Heru dipukul dengan botol dan ditusuk di dada hingga tewas di tempat. Kabar kematian rekan seperjuangan itu menyulut amarah mendalam di kalangan prajurit, termasuk Serda Ucok.
Ucok mulai menelusuri siapa pelaku di balik kematian Heru. Nama Dicky Ambon muncul sebagai tersangka utama, sosok dengan rekam jejak kriminal panjang.
Amarah yang dipendam akhirnya berubah menjadi rencana balas dendam.
Pada 23 April 2013, dini hari, Serda Ucok bersama 11 anggota TNI bergerak menuju Lapas Cebongan, Yogyakarta. Dalam hitungan menit, lapas berhasil dikuasai.
Ucok masuk ke sel sasaran, memastikan hanya orang-orang yang terlibat yang tersisa.
Rentetan tembakan mengakhiri hidup empat tahanan yang diduga terlibat dalam pembunuhan Heru. Seluruh aksi berlangsung singkat, rapi, dan dingin—ciri pasukan terlatih.
Peristiwa ini memicu perdebatan nasional. Sebagian mengecam aksi main hakim sendiri, sementara lainnya melihat Ucok sebagai simbol loyalitas prajurit. Proses hukum berjalan, dan Serda Ucok divonis 11 tahun penjara.
Setelah menjalani hukuman penuh, namanya kembali mencuat lewat foto-foto yang beredar di media sosial, memantik kembali ingatan publik pada kisah lama yang tak pernah benar-benar usai.(*)

Posting Komentar untuk "Tahun 2013, Indonesia Diguncang Peristiwa Berdarah Yang Menyeret Prajurit Elite Kopassus"