Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Ambulans Dihentikan Lantas, Warga Marah & Merekam, Namun Semua Terdiam Saat Menarik Sopir Turun Lalu Setir Sendiri


Ambulans Dihentikan Lantas, Warga Marah & Merekam, Namun Semua Terdiam Saat Menarik Sopir Turun Lalu Setir Sendiri

Siang bolong di EDSA, lalu lintas macet parah. Panas terik bikin emosi semua orang naik—para pengendara sudah lama terjebak tanpa bergerak. 

Di tengah kekacauan itu, sirene ambulans meraung, minta jalan. Tapi jalanan terlalu padat, nyaris tak ada celah.

Di dalam ambulans ada bocah lima tahun bernama Raka, sekarat karena serangan asma berat. Ibunya, Bu Sari, hampir pingsan karena panik dan menangis.


“Tolong cepat, Pak! Anak saya sudah susah bernapas!” teriak Bu Sari pada sopir ambulans, Andi. Andi masih baru bekerja; kelihatan gugup, tak tahu harus menyelip ke jalur mana karena semua lajur penuh.

Tak jauh dari situ berdiri seorang petugas lalu lintas senior, Pak Surya, terkenal tegas. Melihat ambulans terjepit di antara bus-bus, ia meniup peluit keras dan berdiri di tengah jalan.

Semua orang mengira dia akan membuka jalan.

Tapi semua terperangah saat Pak Surya malah memberi isyarat agar ambulans berhenti.

“Hei! Itu keadaan darurat!” teriak seorang sopir angkot.

“Kejam banget petugasnya! Penumpangnya sekarat, kok malah disuruh berhenti!” teriak penumpang bus sambil mengeluarkan ponsel, merekam kejadian untuk diviralkan di media sosial.

Pak Surya mendekat ke sisi sopir. Andi membuka jendela dengan kesal.

“Pak! Ini darurat! Pasien saya bisa meninggal!”

Alih-alih menilang, Pak Surya membuka pintu sopir dan berteriak,

“Turun!”

Andi dan Bu Sari kaget.

“Mau apa Anda?! Anak saya bisa mati!” teriak Bu Sari dari belakang. Klakson, makian, dan teriakan makin ramai. Orang-orang mengira Pak Surya sedang sok kuasa.

Pak Surya menarik Andi keluar dari kursi sopir. Andi, gemetar karena kaget, pindah ke kursi penumpang. Pak Surya langsung duduk di balik kemudi.

“Pegangan yang kuat!” katanya tegas.

Bukannya menerobos arus utama EDSA yang macet, Pak Surya membelok tajam ke kanan—masuk gang kecil yang gelap dan sempit, tampak tak muat untuk ambulans.

“Salah arah! Kita ke RS Cipto! Kenapa masuk gang?!” teriak Andi.

Pak Surya tak menjawab. Ambulans melaju kencang menembus permukiman padat. Ia hafal setiap tikungan, polisi tidur, dan sudut sempit. Beberapa kali hampir menyerempet motor dan becak, tapi kemudinya mantap—seperti adegan kejar-kejaran di film aksi.

Sementara itu, video sudah keburu viral. Kolom komentar penuh amarah:

“Copot saja petugas itu!”

“Negara rusak karena orang-orang seperti dia!”

Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam ambulans.

“Sedikit lagi, Bu! Bertahan, Nak!” seru Pak Surya sambil melirik kaca spion. Wajah Raka mulai membiru.

Mereka keluar dari sebuah gerbang kecil yang jarang orang tahu masih terbuka—langsung tembus ke bagian belakang rumah sakit, jauh dari kemacetan pintu utama. Tak sampai sepuluh menit sejak Pak Surya mengambil alih kemudi, ambulans sudah tepat di depan IGD.

Para perawat dan dokter bergegas membawa Raka masuk. Bu Sari terduduk di lantai, gemetar dan menangis. Andi masih terpaku, tak percaya dengan kecepatan yang barusan terjadi.

Pak Surya turun dari ambulans, merapikan seragamnya, lalu berjalan pergi diam-diam kembali ke posnya di EDSA—tanpa menunggu ucapan terima kasih.

Satu jam kemudian, dokter keluar.

“Bu, anak Ibu sudah selamat. Kalau terlambat lima menit saja, mungkin tidak tertolong. Kalian tiba sangat cepat.”

Barulah Bu Sari tersadar. Ia menoleh mencari petugas itu

namun Pak Surya sudah tak ada.

Posting Komentar untuk "Ambulans Dihentikan Lantas, Warga Marah & Merekam, Namun Semua Terdiam Saat Menarik Sopir Turun Lalu Setir Sendiri"