Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Di Sudut Pasar Madinah Yang Ramai Hidup Seorang Buta Yang Penuh Kebencian


Di sebuah sudut pasar Madinah yang ramai, hiduplah seorang pengemis Yahudi tua yang buta. Hidupnya penuh dengan kegelapan, bukan hanya karena matanya yang tidak melihat, tapi juga karena hatinya yang dipenuhi kebencian.

Setiap ada orang yang melintas, ia tak henti-hentinya berteriak, "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad! Dia pembohong, dia tukang sihir! Menjauhlah agar kalian tidak tersesat!" Hinaan itu adalah "menu harian" yang ia teriakan kepada penduduk Madinah.

Namun, ada sebuah keajaiban yang terjadi setiap pagi. Seorang pria selalu datang membawakannya makanan. Pria itu tidak pernah membalas makian sang pengemis. 

Ia justru duduk bersimpuh di sampingnya, mengambil makanan, lalu menghancurkannya dengan tangannya sendiri agar lembut, kemudian menyuapkannya ke mulut si pengemis dengan penuh kasih sayang.

Selama bertahun-tahun, rutinitas ini berlangsung. Si pengemis makan dengan lahap dari tangan orang yang ia maki setiap saat, tanpa pernah tahu siapa sebenarnya sosok mulia itu.

Setelah Rasulullah SAW wafat, rahasia ini mulai terkuak. Suatu hari, sahabat karib Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq, bertanya kepada putrinya, Aisyah ra, tentang amalan Nabi yang belum ia kerjakan. Aisyah menceritakan perihal pengemis buta di pasar itu.

Keesokan harinya, Abu Bakar datang membawakan makanan. Namun, saat mulai menyuapi, si pengemis mendadak marah dan menepis tangan Abu Bakar.

"Siapa kau? Kau bukan orang yang biasa menyuapiku!" hardik si pengemis.

Abu Bakar terkejut, "Aku adalah orang yang sama," jawabnya.

"Bukan!

 Kau kasar!" 

kata si pengemis. 

"Orang yang biasa datang kepadaku selalu menghaluskan makanan ini dulu sebelum menyuapkannya. Dia sangat lembut dan tangannya terasa sejuk."

Air mata Abu Bakar tumpah. Dengan suara bergetar, ia berkata, "Aku memang bukan dia. Orang yang setiap hari menyuapimu dengan penuh kasih itu telah tiada. 

Beliau adalah Muhammad, orang yang setiap hari kau hina dan kau fitnah di pasar ini."

Seketika, pasar itu terasa sunyi. Sang pengemis terpaku, tangisannya pecah. Ia tersungkur menyadari bahwa orang yang ia anggap musuh paling jahat justru adalah satu-satunya orang yang paling memuliakannya saat semua orang menjauhinya.

Hari itu, di hadapan Abu Bakar, sang pengemis Yahudi itu bersaksi: "Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.

 Kebenciannya luluh bukan karena debat atau peperangan, melainkan karena sepotong roti dan kelembutan hati.

Kisah ini mengajarkan bahwa akhlak mulia adalah bahasa universal. Kadang, cara terbaik untuk membungkam kebencian bukanlah dengan membalasnya dengan kata-kata yang lebih tajam, melainkan dengan menunjukkan kebaikan yang tidak mampu ditolak oleh hati manusia.(*)

Posting Komentar untuk "Di Sudut Pasar Madinah Yang Ramai Hidup Seorang Buta Yang Penuh Kebencian"