Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Pria Beristri Bunuh Kekasih Gelapnya, Jasad Dicor Semen Di Belakang Rumah


Kisah ini bermula di Kabupaten Wonogiri, pada awal tahun 2025. 

Di permukaan, kehidupan tampak berjalan normal, namun di balik layar, terjalin sebuah hubungan terlarang yang kelak berujung pada malapetaka.

Tokoh utamanya adalah Suprianto alias Joko Nur Setiawan (34 tahun), seorang pria beristri, dan DH (48 tahun), seorang wanita dari Kecamatan Baturetno.

I. Ikatan yang Menjerat

Hubungan mereka bukan sekadar asmara terlarang, tetapi juga jeratan masalah yang rumit. DHi merasa telah berkorban banyak, baik perasaan maupun materi. 

Ia diketahui sering membantu Joko secara finansial, hingga Joko memiliki utang sekitar Rp 15 juta dan diduga menggadaikan kendaraan milik Dwi.

Seiring waktu, DH menuntut kepastian. Ia lelah menjadi "yang kedua" dan mendesak Joko untuk menikahinya secara resmi. 

Bagi Joko, tuntutan ini adalah ancaman. Ia ketakutan setengah mati jika perselingkuhannya terbongkar dan rumah tangganya hancur. 

DH pun memberikan ultimatum: "Nikahi aku, atau aku bongkar semuanya pada istrimu dan kembalikan uangku sekarang."

II. Siang Berdarah (11 Februari 2025)

Selasa siang itu, Joko menjemput DH dengan dalih ingin menyelesaikan masalah mereka di tempat yang tenang. Mereka menuju rumah orang tua Joko di Dusun Brubuh, Desa Ngadirojo Lor. Joko tahu betul rumah itu kosong hari itu.

Namun, alih-alih solusi, yang terjadi adalah jalan buntu (deadlock). Di dalam rumah, pertengkaran hebat pecah. DH menagih janji, Joko menolak. Saat DH hendak berteriak dan mengancam, kepanikan menguasai akal sehat Joko.

Tanpa senjata tajam, Joko menggunakan tangan kosongnya. Ia mencekik dan membekap DH hingga lemas, lalu memukuli wajah wanita itu hingga tak bernyawa.

 Siang itu, masalah utang dan tuntutan nikah memang "selesai", namun berganti menjadi mimpi buruk yang jauh lebih besar: sesosok mayat di ruang tamu.

III. Mengubur Kebenaran

Apa yang dilakukan Joko selanjutnya menunjukkan sisi psikologis yang mengerikan. 

Ia tidak lari. Dengan ketenangan yang dingin, ia menyeret jasad DH ke pekarangan belakang, dekat kandang ayam.

Ia menggali lubang, memasukkan jasad DH yang masih berpakaian lengkap, lalu melakukan tindakan yang membuat kasus ini begitu sadis: Pengecoran. Joko mengaduk semen dan menutup liang itu dengan beton cor. 

Tujuannya teknis dan taktis agar bau busuk mayat tidak tercium tetangga atau orang tuanya. Di atas gundukan semen itu, ia menumpuk botol bekas dan sampah agar terlihat seperti sisa bangunan biasa.

Selama hampir tiga bulan Februari, Maret, hingga April Joko menjalani hidup seolah tak terjadi apa-apa. 

Ia makan dan tidur tak jauh dari tempat jasad kekasih gelapnya terkubur kaku di bawah semen.

IV. Terbongkarnya Sandiwara (Mei 2025)

Keluarga DH yang kehilangan kontak sejak pertengahan Februari akhirnya melapor ke polisi.

 Penyelidikan berjalan alot, namun jejak digital dan transaksi keuangan tidak bisa berbohong. Semua petunjuk mengarah pada Joko.

Setelah diinterogasi intensif, pertahanan Joko runtuh. Ia mengaku. Pada dini hari tanggal 1 Mei 2025, polisi membongkar paksa coran semen di belakang rumah orang tua Joko. 

Di sana, kebenaran terungkap: jasad DH ditemukan, membisu namun menjadi saksi bisu kekejaman yang dialaminya.

V. Vonis dan Konsekuensi

Hukum bekerja tegas. Tindakan Joko yang mempersiapkan tempat, mengeksekusi, lalu menyembunyikan mayat dengan rapi, memenuhi unsur Pembunuhan Berencana (Pasal 340 KUHP).

 Ia juga dijerat pasal berlapis terkait pembunuhan dan penyembunyian mayat.

Kini, Joko menghadapi ancaman hukuman maksimal: Hukuman Mati atau Penjara Seumur Hidup. Niat hati ingin menyelamatkan nama baik dari aib perselingkuhan, ia justru menghancurkan hidupnya sendiri hingga ke titik nadir.

VI. Semen Bisa Mengeras, Tapi Kebenaran Tak Bisa Mati

depa

Tragedi Joko dan DH ini menampar kita dengan sebuah renungan mendalam. Seringkali, saat terdesak, manusia berpikir pendek bahwa dengan menghilangkan "sumber masalah" (orangnya), maka masalah akan selesai. Joko mengira beton semen bisa membungkam DH selamanya.

Namun ia lupa, masalah yang kita kubur paksa apalagi yang diawali ketidakjujuran seperti perselingkuhan dan utang justru akan membusuk dan meledak di kemudian hari.

Kasus ini adalah pengingat keras tentang mahalnya harga sebuah "topeng". Joko membunuh karena takut malu. Ironisnya, karena perbuatannya itu, kini ia kehilangan segalanya: nama baik, kebebasan, dan masa depan.

Pada akhirnya, tidak ada adukan semen yang cukup tebal untuk menahan bau bangkai, dan tidak ada sandiwara yang cukup rapi untuk mengelabui takdir.

 Hiduplah dengan jujur dan berani bertanggung jawab, karena itulah satu-satunya cara agar kita bisa tidur nyenyak tanpa dihantui rasa takut akan apa yang mungkin terbongkar esok hari.(*)

Posting Komentar untuk "Pria Beristri Bunuh Kekasih Gelapnya, Jasad Dicor Semen Di Belakang Rumah"