Mustafa Gani
Saudaraku.
Bayangkan senja terakhir dalam hidupmu. Langit meredup perlahan, dan dunia—yang dulu kau kejar mati-matian—
tiba-tiba terlihat kecil, jauh, dan tak menggoda lagi. Di detik itu, kau tak ditanya berapa yang kau miliki, tetapi berapa yang kau relakan.
Harta itu seperti air di telapak tangan. Digenggam kuat, ia justru hilang. Dilepas dengan ikhlas, ia berubah menjadi sungai yang mengalir sampai ke akhirat.
Sedekah adalah seni meninggalkan, agar kelak tak kehilangan.
Para ahli jiwa menyebutnya the helper’s high—
bahwa memberi membuat hati lebih bahagia daripada menerima.
Buku The Art of Happiness (Dalai Lama) menulis:
“True happiness comes from compassion.” Kebahagiaan sejati lahir dari welas asih.
Namun Islam melangkah lebih jauh. Sedekah bukan sekadar menenangkan jiwa, ia menyelamatkan masa depan yang tak terlihat.
Allah berfirman:
“Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”
(QS. Saba: 39)
Bukan mungkin, tapi pasti. Ilustrasinya begini:
Dunia adalah ruang tunggu. Akhirat adalah rumah. Orang cerdas tak sibuk menghias ruang tunggu, ia mengirim perabot ke rumahnya lebih dulu.
Dalam Man’s Search for Meaning, Viktor Frankl berkata:
“Happiness cannot be pursued; it must ensue.” Kebahagiaan tak bisa dikejar, ia datang sebagai akibat.
Sedekah adalah akibat dari iman yang hidup. Ia bukan kehilangan, melainkan pemindahan kepemilikan dari tangan yang fana
ke catatan amal yang abadi. Apa yang kau simpan hari ini akan ditinggalkan tanpa pamit. Apa yang kau sedekahkan hari ini akan menyambutmu di hari paling sunyi.
Maka sebelum malam menjadi penutup cerita, sebelum nafas menjadi hitungan terakhir, belajarlah mencintai dengan memberi.
Karena sungguh, saudaraku …
yang kau bawa besok bukan apa yang kau miliki, tetapi apa yang dengan ikhlas kau tinggalkan hari ini.
Selamat istirahat
Jumat jangan lupa perbanyak sedekah.... " HMG 1955 "๐คฒ๐ค๐๐

Posting Komentar untuk "Yang Kau Bawa Esok Hari, Apa Yang Ditinggalkan Hari Ini"