Oleh: Ramli S. Nawi
Sejak ibu berpulang terasa hidupku hampa tak ada lagi gairah yang memberi sepirit. Saat itu terasa ada sesuatu yang sulit untuk kujelaskan lewat kata - kata.
Disaat saat kerinduan itu datang menghampiriku disaat seperti itulah hati terasa hampa.
Dalam kondisi seperti itu tiba - tiba biasanya muncul bayangan masa kecilku, dimana pada saat itu ibu meminta untuk ditemani ke kebun memetik buah kacang panjang untuk dia masak sayur.
Aku dengan ibu biasa berjam-jam menikmati suasana adem di kebun sambil merawat segala macam jenis tanaman sayur yang ditanam ayahku.
Disitu pula ibu bercerita tentang hari kelahiranku pada hari Rabu, dia berkata, bahwa siapa yang lahir pada hari Rabu, Tuhan memberi kekuatan fisik sebagai modal dalam mengarungi hidup.
Adapu tanggal kelahiranku 9 Februari, ibuku tidak pernah mengukapkan makana dari 9 Februari. Itulah yang menjadi rahasia dalam hidupku hingga aku memasuki dunia wartawan yang kugeluti hingga saat ini.
Sejak saat itu setiap pulang kampung ada rasa hampa menggelayut dalam benak dan tidak lagi merasakan bagaimana kehangatan tangan ibu bila iya mendekap tubuhku yang ringkih.
Ayahku begitu sedih dan merasa kehilangan ditinggal pergi ibu untuk selama lamanya. Dari situ, tahun demi tahun tubuh ayahku mulai rapuh, mulai melemah dan tenaganya tidak sekuat dulu.
Aku sadar bahwa ayahku mengalami tekanan pemikiran yang berat setelah ibuku meninggal dunia. Pada saat aku pulang ke kekota tinggalah ayah sendirian karena aku juga tidak memiliki saudara kandung.
Kesendirian ayahku di kampung justru sangat membebani pikiranku walaupun ada keluarga sepupu yang mengurusi makannya.
Pada suatu waktu aku dikabari, bahwa ayahku sudah tidak kuat lagi dan sangat lemah. Aku pun segera pulang kampung untuk menengok dan ingin segerah membawa ke rumah sakit.
Tetapi semua itu menjadi sia - sia. Masih sementara dalam perjalanan pulang aku nendapatkan kabar yang memilukan. Ayah sudah tiada dan berpulang untuk selama lamanya.
Rasanya aku seperti tersambar petir disiang bolong. " Innalillahi Wainnailahi Rojiun.
" Air mata menetes jatuh kepelipis kemudian lalu aku berdoa dalam hati atas kepergian ayah tercinta yang aku tidak sempat melihat masa - masa akhir hidupnya.
Aku kuatkan hati sambil menyusuri jalan sunyi menuju kampung halama.Tak terasa waktu pun terus bergulir, dan berganti, dari hari kehari hingga ketahun dan pada akhirnya tak terasa sudah 18 tahun terlampaui dan semuanya berlalu begitu cepat.
Sejak ibu dan ayahku sudah pulang untuk selama lamanya sejak itu pula aku tidak pernah pulang ke kampung halaman.
Kedekatanku kepada keduanya hanyalah tinggal kenangan menjadi penghibur.
Biasanya, disaat memasuki awal bulan suci Ramadhan disitulah saat - saat rasa rindu menghampiriku. Bulan suci Ramadhan yang penuh berkah, mengingatkan masa - masa kecil di kampung halaman.
Pada malam hari berbondong bondong menuju masjid untuk tarwih berjamaah. Itulah masa yang paling indah di kampung.
Apabila mengingat semua itu ingatanku terus menerawan jauh ke relung-relung kerinduan yang mendalam tentang kasi sayang seorang ibu dan ayah.
Tak ada lagi rasa rindu yang membawaku untuk pulang kekampung. Belaian tangan ibu dimasa kecilku terasa masih bembekas dan menyimpan kehangatan yang selalu mengobati rasa rinduku.
Pada suatu waktu ibu memanggilku dan meminta untuk mendekat. Ibuku membisikan, bahwa aku dilahirkan pada hari Rabu 9 Februari, puluhan tahun lampau.
Belakangan aku baru tahun bahwa 9 Februari itu adalah hari Pers Indonesia. Apakah cuma secara kebetulan aku bersamaan lahirnya dengan Hari Pers Indonesia yang menjadi profesi ku saat ini ?
Demikian pula ayah yang sering meminta ditemani ke sawah untuk menengok padi yang sudah mulai menguning yang sebentar lagi akan di panen.
Pada saat pulang kampung sekali dalam seminggu semasa ibuku dan ayah ku masih hidup betapa aku merasakan kebahagiaan.
Apabila ibu mendekap tubuhku dan rasa bahagia itu terasa meliputi seluruh raga dan jiwa ku. Pada waktu itu Ibuku sudah memasuki usia 70 an tahun dan selalu sakit sakitan, mungkin karena faktor usia.
Sakit yang paling sering dikeluhkan ibuku adalah rasa sakit dan nyeri dibagian perut. Walaupun saat itu di kampung sudah ada pukesmas lengkap dengan dokter, tetapi ibuku malas ke puskesmas yang jaraknya mencapai 1 kilo meter dari rumah.
Kalau tiba - tiba penyakitnya kambuh dia paling meminta seorang mantri yang bekerja dipuskesmas untuk datang memerikasanya.
Mantri yang bernama Amir, sudah hapal betul penyakit ibu. Biasanya sesudah memeriksa tekanan darah ibu langsung diberi obat dan vitamin.
Pak Amir, selalu menyiapkan obat generik untuk pasiennya di kampung obat yang harganya terjangkau. Adapun jenis penyakit yang kebanyak diderita masyarakat di kampung adalah penyakit, hivertensi, mag, batuk dan influensa.
Pak Amir sudah bertahun- tahun melayani masyarakat yang malas ke pukesmas untuk memeriksakan kesehatan alasannya, karena apabila ke puskesmas yang melayani juga adalah pak Amir.
Suatu waktu ibuku tiba - tiba kesehatannya drop, tekanan darahnya melanjak tinggi. Pak Amir sudah tidak sanggup lagi menangani.
Sementara ibuku sama sekali tak mau ke puskesmas untuk berobat. Iya lebih melih di rumah dan mengandalkan obat - obat yang direkomdasikan pak Mantri Amir.
Dengan sakitnya itulah penyebab berpulangnya ibuku untuk selama lamanya. Sudah 18 tahun aku tidak pernah pulang kampung.
Kesibukan pada profesi wartawan yang kugeluti berpuluh tahun lamanya juga menjadi pengingat bahwa ini hanyalah kendaraan untuk mencapai titik akhir dalam setiap kehidupan.

Posting Komentar untuk "Sejak Ibu Meninggal Terasa Hidupku Hampa Tak Ada Lagi Yang Memberi Sepirit"