Media Duta,- Secara akademis, penghentian Operasi “Epic Fury” oleh Amerika bukan berarti Amerika kalah total secara militer.
Tetapi ini menunjukkan bahwa Washington kembali menghadapi masalah klasik dalam perang modern:
mudah memulai perang udara, tetapi sulit mengendalikan dampak geopolitiknya.
Menurut pernyataan resmi Menlu AS Marco Rubio, operasi ofensif terhadap Iran telah “selesai” dan Amerika masuk ke fase defensif untuk menjaga jalur pelayaran di Selat Hormuz.
1. Amerika Menang Secara Taktis, Tapi Mulai Terjebak Secara Strategis
Ini pola yang sangat mirip dengan:
- Perang Vietnam
- Perang Afghanistan
- Perang Iraq
Dalam semua perang itu, Amerika unggul:
- teknologi,
- udara,
- intelijen,
- rudal,
- satelit,
- logistik.
Tetapi masalah muncul ketika perang berubah menjadi:
- perang jangka panjang,
- perang ekonomi,
- perang psikologis,
- perang ketahanan politik domestik.
Di Iran, AS berhasil menghancurkan banyak target militer dan infrastruktur strategis Iran.
Tetapi Iran tetap mampu:
- mengganggu Selat Hormuz,
- mempertahankan jaringan proksinya,
- menciptakan tekanan ekonomi global,
- membuat harga energi dunia tidak stabil.
Artinya: Amerika bisa menghancurkan, tetapi tidak bisa benar-benar mengendalikan kawasan secara penuh.
2. Amerika Mulai Menghindari “Perang Tanpa Akhir”
Ini pelajaran pahit dari Afghanistan.
Di Afghanistan:
- AS menang cepat tahun 2001,
- Taliban jatuh,
- Kabul dikuasai.
Tetapi setelah 20 tahun: Amerika keluar, Taliban kembali berkuasa.
Itu menciptakan trauma strategis besar di Washington.
Karena itu, sejak era pasca-Afghanistan, doktrin militer AS berubah:
- hindari okupasi besar,
- hindari perang darat panjang,
- gunakan serangan presisi,
- tekanan ekonomi,
- operasi udara singkat.
Pernyataan Rubio bahwa operasi sudah selesai kemungkinan besar juga berkaitan dengan:
- tekanan politik domestik,
- biaya perang,
- ancaman pelanggaran War Powers Resolution,
- kekhawatiran perang melebar regional.

Posting Komentar untuk "AMERIKA TIDAK BELAJAR DARI PERANG VIETNAM DAN PERANG AFGHANISTAN"