Media Duta,- Di Pendopo Bupati Pangandaran, Kecamatan Parigi, Selasa (1/9/2026). Di sana saya tanya waktu datang tidak lama ada penyambutan habis itu saya gunting pita, udah jalan gitu,” katanya.
Citra menilai jumlah orang yang berada di atas jembatan saat itu memang terlalu banyak. “Jadi, yang saya lihat sih di sana memang itu over capacity. Terlalu banyak memang,” ujar dia.
Jembatan Gantung Pongpet memiliki panjang sekitar 65 meter dengan ketinggian sekitar 20 meter. Saat kejadian, tali sling pada sisi kanan jembatan terlepas dari blok angkurnya.
“Jadi saya hadir sebagai undangan waktu itu. Kurang lebih jam 16.00 waktunya. Disambut iring-iringan (kesenian) badut. Setelah itu gunting pita, kita berjalan. Nah, di agak tengah itu udah mulai goyang,”
Citra mengatakan, jembatan mulai terasa tidak stabil ketika rombongan berjalan menuju bagian tengah. Menyadari kondisi tersebut, Citra kemudian menoleh ke belakang dan meminta rombongan untuk mundur.
“Ya, udah mulai goyang tuh. Saya sudah ngomong tuh ke belakang. Karena merasa udah enggak stabil tuh jembatan udah agak kencang, saya nengok ke belakang untuk mundur.
Saya udah ngasih instruksi mundur, mundur gitu loh,” ujarnya. Namun, belum sempat rombongan menjauh, tali sling jembatan tiba-tiba putus.
Namun, belum sempat rombongan menjauh, tali sling jembatan tiba-tiba putus. Citra berada di sisi kiri jembatan, sementara bagian yang mengalami kerusakan berada di sisi kanan.
Kondisi itu membuat lantai jembatan menjadi miring dan orang-orang yang berada di atasnya terpental. “Tidak lama dari kejadian itu memang patah, selingnya patah.
Saya posisinya di sebelah kiri. Yang patah tuh kanan. Jadi si jembatan tuh miring. Dan orang terpental tuh. Termasuk saya,” kata Citra.
Citra mengaku tidak begitu mengingat persis apa yang terjadi ketika jembatan mulai miring dan dirinya terpental. Ingatan yang tersisa adalah ketika tubuhnya sudah berada dalam posisi setengah tengkurap.
“Saya tidak tahu posisi saya, saya ingatnya gerubuk-gerubuk gitu. Sudah tidak sadar. Saya sadar posisi saya sudah setengah tengkurap,” ujarnya.
Saat itu, Citra berusaha bertahan dengan memegang plat yang berada di bagian tengah pijakan jembatan. Jembatan tersebut menggunakan pijakan berbahan kayu.
Di bagian tengahnya terdapat plat yang kemudian menjadi pegangan Citra saat tubuhnya berada dalam posisi nyaris merangkak.
“Dan saya memegang plat yang ada di tengah pijakan tuh. Kan pijakan itu kan kayu tuh ya. Tengah-tengah itu ada plat. Itu yang saya pegang. Jadi posisi saya sudah setengah tengkurap,” kata dia.
Di bawah jembatan terdapat jurang dengan kedalaman sekitar 20 meter. Citra mengatakan, dalam kondisi tersebut, dirinya hanya berusaha bertahan dan mencari posisi yang memungkinkan untuk menyelamatkan diri.
“Kalau perasaan mah wah, sudah enggak bisa (selamat). Teman-teman bayangin aja di bawah itu 20 meter. Saya, kayak merangkak gitu loh. Setengah tungkur merangkak, gelosor ke bawah,” ujarnya.
Dalam kondisi masih berpegangan pada plat, Citra kemudian mendapat pertolongan dari Camat Cijulang. Camat tersebut naik ke bagian jembatan tempat Citra berada dan menarik tangannya hingga berhasil membawanya ke bagian pinggir.
“Saya langsung megang plat yang ada di tengah. Terus saya ditarik sama Camat tuh, tangan saya sebelah kanan saya ingat. Baru saya jalan ke pinggir,” kata Citra.
Setelah berada di sisi jembatan, Citra sempat menoleh ke belakang. Ia melihat Dandim 0625/Pangandaran berada dalam posisi tersangkut di bagian ram. “Saya nengok ke belakang. Pak Dandim sudah berada di itu, di ram itu,” ujarnya.
Citra mengatakan, dirinya tidak mengetahui secara pasti kondisi orang-orang yang berada di belakangnya saat jembatan mengalami kerusakan.
Fokusnya saat itu hanya berusaha tetap berpegangan agar tidak terjatuh. “Sudah begini posisinya dia (telentang), tersangkut di ram.
Jadi, kalau posisi kan saya posisinya di depan. Kalau ke belakang saya enggak begitu lihat karena saya fokus waktu itu megang plat itu,” kata Citra.
Citra mengungkapkan, dirinya sebenarnya sempat mencoba melintasi jembatan tersebut sebelum peresmian bersama Dandim.
Namun, ia tidak sampai berjalan hingga ujung karena merasa ngeri dengan ketinggian jembatan. “Waktu itu dengan Pak Dandim, saya ke tengah tuh, tapi enggak sampai selesai.
Ngeri, ngeri loh tinggi. Saya balik lagi,” ujarnya. Saat peresmian, Citra kembali melintasi jembatan yang sama. Di belakangnya saat itu terdapat Kepala Desa Margacinta Enceng Anwar Solihin.
Enceng sempat menanyakan apakah Citra takut melintasi jembatan tersebut. “Pak Kuwu ngomong tuh belakang saya, ‘Ibu takut enggak?’ gitu. Dan saya bilang, ‘Kan ini jembatannya baru,’ saya bilang enggak takut gitulah kira-kira,” kata Citra.
Tak lama setelah percakapan tersebut, jembatan mulai bergoyang dan kemudian mengalami kerusakan.
Citra juga mengatakan, sebelum melintasi jembatan saat peresmian, dirinya tidak mendapat informasi mengenai batas maksimal beban yang dapat ditampung jembatan.
Ia mengaku tidak mendapatkan peringatan mengenai jumlah orang yang diperbolehkan berada di atas jembatan dalam waktu bersamaan.
“Saya itu enggak ada. Saya enggak diingatkan itu (informasi batas muatan). Memang enggak ada yang ngingetin apa-apa,” ujar Citra.
Menurut dia, rangkaian kegiatan berlangsung cepat. Setelah tiba di lokasi, rombongan disambut, kemudian dilakukan pengguntingan pita sebelum berjalan melintasi jembatan.(*)

Posting Komentar untuk "CITRA PITRIYAMI Ceritakan Tentang Jembatan Gantung Ambruk"