Dari Letnan Antipeluru Hingga Kepala Staf Angkatan Darat Dan Menteri Dalam Negeri. Rudini lahir di Malang, Jawa Timur pada 15 Desember 1929.
Ia merupakan anak ketiga dari sepuluh bersaudara pasangan Raden Ismangoen Poespohandojo dan Raden Ajoe Koesbandijah.
Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah, Rudini bertekad menjadi tentara meskipun orangtuanya menginginkannya menjadi dokter.
Ia kemudian diterima di Koninklijke Militaire Academie di Breda dan lulus pada tahun 1955.
Rudini dilantik sebagai perwira TNI Angkatan Darat oleh KSAD Abdul Haris Nasution.
Pada masa awal kariernya ia ditugaskan menumpas pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan dan dijuluki Letnan Antipeluru.
Ia pernah menjadi instruktur di Akademi Militer Nasional Magelang dengan sejumlah anak didik yang kelak menjadi jenderal.
Rudini kemudian menjabat sebagai Komandan Batalyon 401/Banteng Raiders dan Komandan Brigade Infanteri Linud 18/Kostrad.
Pada tahun 1973 ia memimpin Kontingen Garuda VI dalam misi gencatan senjata di Timur Tengah.
Ia ikut serta dalam Operasi Seroja di Timor Timur dan kemudian menjadi Panglima Komando Tempur Lintas Udara.
Rudini menjabat sebagai Panglima Kodam XIII/Merdeka lalu Panglima Kostrad.
Pada 1 Maret 1983 hingga 7 Juni 1986 ia dilantik sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-14 menggantikan Poniman sebelum digantikan Try Sutrisno.
Selanjutnya ia menjabat Menteri Dalam Negeri ke-19 dari 23 Maret 1988 hingga 17 Maret 1993 dalam Kabinet Pembangunan V.
Rudini juga pernah menjadi Ketua Lembaga Pemilihan Umum dan Ketua Komisi Pemilihan Umum pertama.
Di kehidupan pribadinya ia menikah dengan Oddyana Rudini pada tahun 1959 dan dikaruniai tiga anak.
Rudini meninggal dunia pada 21 Januari 2006 di Jakarta dalam usia 76 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Sumber: Wikipedia
#JenderalRudini #KSAD #SejarahMiliterIndonesia

Posting Komentar untuk "Dari Letnan Antipeluru Hingga Kepala Staf Angkatan Darat Dan Menteri Dalam Negeri"