Tips dari Umar bin Khattab tentang sedekah, dan kenapa ia memilih memberi justru saat merasa paling membutuhkan.
Ada satu riwayat yang menggambarkan ini dengan sangat jelas. Dalam sebuah perjalanan panjang, Umar bin Khattab dan rombongannya beristirahat, dan ketika jatah makanan dibagikan, ia melihat seorang fakir yang tampak sangat kelaparan.
Tanpa berpikir panjang, Umar memberikan jatah makanannya sendiri kepada orang itu, padahal ia sendiri belum makan sama sekali.
Para sahabat yang menyaksikan bertanya heran, "Mengapa engkau melakukannya, wahai Amirul Mukminin?" Umar menjawab:
"Bagaimana aku bisa makan dengan kenyang, sedangkan ada orang yang lebih membutuhkan?"
Satu, perhatikan momen ia memilih memberi, bukan setelah kenyang, bukan dari kelebihan yang tersisa, tapi tepat saat rasa laparnya sendiri sedang di puncaknya. Ini membalik logika yang biasa kita pakai, "aku akan bersedekah kalau sudah cukup untuk diriku sendiri.
" Umar menunjukkan cara berpikir yang berbeda, kebutuhan orang lain yang lebih mendesak bisa menggeser kebutuhan pribadinya sendiri, bahkan dalam hal sesederhana rasa lapar di tengah perjalanan.
Dua, ada kisah lain yang memperkuat pola pikirnya, saat ia menjabat sebagai khalifah dan sering berjalan sendirian di malam hari untuk mengecek langsung kondisi rakyatnya, tanpa pengawalan atau pemberitahuan.
Suatu malam, ia mendengar tangisan anak anak dari sebuah rumah kecil, dan mendapati seorang ibu yang memasak air kosong hanya supaya anak anaknya mengira makanan sedang disiapkan, sampai mereka tertidur karena kelelahan menunggu.
Umar bergegas ke Baitul Mal, mengambil sendiri sekarung gandum dan bahan makanan, lalu memikulnya sendiri ke rumah itu, tanpa menyuruh orang lain melakukannya untuknya.
Tiga, dua kisah ini menunjukkan pola yang konsisten, Umar tidak menunggu laporan resmi atau permintaan bantuan untuk bergerak.
Ia secara aktif mencari tahu siapa yang sedang kesusahan, bahkan sampai turun tangan sendiri secara fisik, memikul karung gandum sebagai seorang kepala negara, bukan sekadar memerintahkan bawahannya melakukan itu.
Empat, memberi saat merasa paling membutuhkan bukan berarti mengabaikan kebutuhan sendiri secara sembrono, tapi menunjukkan skala prioritas yang berbeda.
Kepekaan terhadap penderitaan orang lain yang lebih besar, ditempatkan di atas kenyamanan pribadi yang sebenarnya masih bisa ditunda sedikit lebih lama.
Umar tetap bisa makan setelah itu, hanya saja ia memilih menunda kenyamanannya sendiri demi kebutuhan mendesak orang lain yang tidak bisa menunggu.
Lima, yang menohok dari semua ini, kita sering menunda sedekah sampai merasa "sudah cukup" untuk diri sendiri, padahal standar "cukup" itu sering kali tidak pernah benar benar tercapai.
Umar menunjukkan, kepekaan terhadap kebutuhan orang lain tidak harus menunggu sampai diri sendiri merasa berkelimpahan, kadang justru momen paling tepat untuk memberi adalah tepat saat kau merasakan sendiri betapa beratnya rasa butuh itu, karena di situlah empati terasa paling nyata, bukan sekadar teori.
Ia memberi bukan dari kelebihan, tapi tepat saat rasa butuhnya sendiri sedang di puncak. Empati yang paling nyata sering lahir justru di momen seperti itu.(*)

Posting Komentar untuk "Memilih Memberi Justru Ketika Merasa Paling Membutuhkan"