Sudah hampir empatahun saya tidak pernah secara khusus pergi memanjakan diri ketempat tempat rekreasi, sekedar untuk menghilangkan kepenatan pikiran dan merileksan otok - otok yang kaku.
Selama ini juga tidak ada lagi niat untuk mengunjungi tempat - tempat pijit tradisional merepleksi kaki. Tetapi rupanya juga semakin berkurang jumlah di kota tempat - tempat repleksi.
Dampak perekonomian sangat dahsyat menghantam mereka para pengusaha hiburan sehingga mereka memilih menutup tempat usahanya.
Sementara pengunjung juga sangat langka dan berkurang walaun tubuhnya sesungguhnya meminta untuk diterapi agar otot - otot yang kaku bisa kembali lentur.
Persoalannya ada pada isi dompet. Isi dompet sudah tidak bisa lagi diandalkan. Kalaupun ada uang lebih memikirkan kebutuhan sehari hari yang mendesak. Hari selala 27 Oktober 2026, seperti biasa singgah terlebih dahulu disebuah warkop di kompleks RRI Makassar.
Rupanya adik - adik dari almamater Akademi Ilmu Pelayaran Indonesia yang jauh dibawah angkatan saya ada tiga orang ternya terlebih dahulu sudah menikmati kopi susu masing - nasing.
Begitu tiba saya lansung bergabung dan memesan secangkir teh manis. Beberapa saat kemudian mereka lalu mengajak ikut bersama dengan mereka.
Saya ikut saja dengan menumpangi mobil pak Bowo, oner salah satu perusahaan ekspedisi yang cukup sukses di Makassar.
Ada GM logistik Pelindo Regional 4 Makassar Bapak Hamsin dan satu lagi adik tingkat yang juga dari Pelindo. Pukul 09.30, perjalanan dimulai setelah keluar dari kompleks RRI Makassar.
Mobil yang dikemudikan sendiri pak Bowo, mulai tancap gas menelusuri jalan Sombaupu pusat perdagangan emas di Makassar dan seterusnya menuju selatan melintasi jembatan Barombong.
Saya sendiri kebingungan mau menju kearah mana. Saya juga tidak diberi tahu sebelumnya. Ibarat penculikan dadakan. Saya tenang saja duduk mentandarkan badang kebelakang.
Tidak lama kemudian mobil sudah memasuki Kecamatan Galesong Utara. Saya diam saja entah kearah mana tujuan sesungguhnya. Untung sepanjang jalan mata disuguhi hamparan kebun jagung yang sudah siap panen.
Matahari yang beberapa hari lalu sengahantarkan suhu panas yang menyengat rupanya hari itu suhunya sudah mulai melemah.
Pukul 11.15 menit mobil memasuki Kecamatan Galesong Selatan, yang beberapa waktu lalu pernah diguncang gempa bersekala kecil.
Pada ahirnya tujuang mentok di pantar Sanro Bone, Kecamatan Galeson Selatan. Tujun pertama di rumah makan milik seorang Kepala Desa.
Sambil duduk di gasebo yang beratap ilalang juga menikmati hempasan gelombang kecil atau riak. Pak Hamsin lalu memesan segala macam makanan.
Pewanar dahaga pertama adalah air kelapa muda lalu dilanjutkan dengan menu utama yaitu, makan ikan bakar, cumi, udang, kerang dan hidangan lainnya.
Pemandang laut membawa nikmat karena menghantarkan angin sepoi - sepoi basah. Kurang lebih dari 2 jam menikmati suasan pantai Sanro Bone, kami berempat lalu kembali ke Makassar dengan melintasi jalan yang sama.
Dari perjanan singjat tersebut ada beberapa catatan penulis yang saya sajikan disini, bahwa pantai Sanro Bone, memiliki potensi besar sebagai tempat pariwisata pantai.
Hanya sayang akses berupa jalan menju ke tempat itu belum sepenuhnya terperhatikan oleh pemerintah setempat sehingga belum layak dikategorikan sebagai pendukung .
Padahal menurut penduduk setempat minat pengunjung cukup besar dengan hadirnya sarana pendukung berupa warung - warung makan. Pengunjung, katanya mengeluhkan akses jalan yang banyak permukaannya bopeng. (Ramli.Nawi )

Posting Komentar untuk "MENUJU SELATAN MENTOK DI PANTAI SANRO BONE TAKALAR"