TEHERAN — Eskalasi politik di kawasan Timur Tengah berpotensi memasuki babak baru yang semakin menegangkan setelah kalangan legislatif Iran mulai menyuarakan perubahan radikal pada doktrin pertahanannya.
Anggota parlemen Iran, Mahmoud Nabavian, secara terbuka mendesak Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, untuk segera menerbitkan izin resmi bagi pengembangan senjata pemusnah massal berupa bom atom.
Usulan kontroversial yang disampaikan dalam sebuah pertemuan strategis di Kota Qom tersebut dilaporkan mendapat dukungan luas dan persetujuan dari para peserta yang hadir, memicu kekhawatiran global akan perlombaan senjata nuklir di kawasan.
Desakan dari parlemen ini menandai adanya tekanan domestik yang kian masif agar Teheran meninjau kembali sikap diplomasi internasionalnya.
Selama ini, otoritas Iran selalu berpegang pada fatwa keagamaan yang dikeluarkan oleh mendiang Ali Khamenei yang mengharamkan kepemilikan senjata nuklir, serta konsisten mengeklaim bahwa aktivitas pengayaan uranium mereka murni untuk kebutuhan energi damai.
Namun, hantaman sanksi ekonomi yang bertubi-tubi dari Amerika Serikat dan sekutunya tampaknya mulai memicu faksi garis keras di parlemen untuk mengambil langkah pencegahan militer (nuclear deterrent) yang lebih agresif.
Meskipun Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran sempat menegaskan bahwa negara itu belum mengubah cetak biru pertahanannya, pihak internal pemerintah tidak menampik kemungkinan adanya perubahan haluan di masa depan akibat dinamika geopolitik yang tak menentu.
Dinamika suksesi kepemimpinan di Iran serta situasi keamanan regional yang fluktuatif diyakini menjadi motor penggerak utama di balik wacana ini.
Jika Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei akhirnya melonggarkan fatwa pendahulunya, lanskap keamanan global dipastikan akan berubah drastis dan memicu respons militer yang keras dari blok Barat maupun sekutu regionalnya di Timur Tengah.
Sumber Berita: CNN .Timur tengah,jjr

Posting Komentar untuk "Parlimen Iran Mendesak Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei Diizinkan Kembangkan Bom Atom"