Ayahku berharap ada ibu dirumah saat pulang dari rantau namun dirumah disambut dg garis kuning.
Pukul dua pagi itu, rumah begitu sunyi. Hanya ada aku dan wanita yang memanggilku "anak". Orang-orang bilang rahimnya adalah tempat suci, tapi bagiku, malam itu hanya ada sesak dan dendam yang sudah lama mengakar di kepala.
Aku menatap wajahnya, lalu kubekap nafas yang pernah memberi kehidupan padaku. Tidak ada tangisan, tidak ada keraguan. Aku hanya ingin semuanya berakhir.
Hutang-hutang yang menjeratku dan sakit hati yang kupendam, seolah meminta tumbal malam itu.
Saat tubuhnya tak lagi bergerak, aku menggendongnya ke dalam mobil. Sama seperti dulu ia mungkin sering menggendongku saat kecil.
Tapi kali ini berbeda. Aku membawanya pergi jauh, menembus gelap menuju sunyinya Sekotong.
Di sana, aku menyulut api.
Aku melihat tubuh itu dilalap api. Tidak ada sisa ikatan ibu dan anak yang tersisa di sana. Hanya ada asap hitam yang terbang dibawa angin laut, seolah-olah puluhan tahun kasih sayangnya bisa aku hapus begitu saja dengan beberapa liter bahan bakar.
Pagi harinya, aku bersandiwara. Aku lapor ke polisi, berpura-pura kehilangan ibu yang paling aku sayangi. Aku mencoba memakai topeng anak yang berbakti, meski di dalam mobilku, bercak darahnya sedang menjeritkan namaku.
Ayah akan pulang hari ini dari Sulawesi. Ia berharap disambut pelukan hangat istrinya. Tapi ia salah.
Ia hanya akan menemukan rumah yang dingin, garis kuning polisi, dan kenyataan bahwa anak lelakinya sendiri telah berubah menjadi monster yang paling ia takuti.
Jangan tanya kenapa. Jangan tanya di mana nuraniku. Karena di malam itu, saat api berkobar di Sekotong, aku tidak hanya memb4kar jas4d ibuku... aku juga membakar habis hatiku sendiri. Hanya ada kata IBU MAAFKAN ANAKMU..🙏🏻🙏🏻

Posting Komentar untuk "IBU NAFASMU TERHENTI DITANGANKU, CINTAMU HANGUS JADI ABU “"