Perang Uhud adalah salah satu pertempuran paling berat yang pernah dihadapi kaum Muslimin. Pasukan Quraisy datang ke Madinah dengan jumlah sekitar tiga ribu orang untuk membalas kekalahan mereka dalam Perang Badar. Sementara itu, kaum Muslimin hanya berjumlah sekitar tujuh ratus orang.
Sebelum peperangan dimulai, Rasulullah ﷺ berdiri di hadapan para sahabat sambil mengangkat sebuah pedang.
Dengan suara yang penuh wibawa beliau bersabda,
"Siapakah yang akan mengambil pedang ini dengan haknya?"
Banyak sahabat mengangkat tangan. Di antara mereka terdapat Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Az-Zubair bin Al-Awwam, dan para pejuang pemberani lainnya. Masing-masing berharap mendapatkan kehormatan membawa pedang Rasulullah.
Namun Rasulullah belum menyerahkannya kepada siapa pun.
Lalu seorang sahabat bertubuh tegap maju ke hadapan beliau. Dialah Abu Dujanah Simak bin Kharasyah.
Ia bertanya dengan penuh hormat,"Wahai Rasulullah, apakah hak pedang itu?"
Rasulullah menjawab,
"Engkau menggunakannya untuk memerangi musuh Allah hingga pedang itu bengkok atau engkau gugur di jalan Allah."
Tanpa ragu sedikit pun, Abu Dujanah berkata, "Aku sanggup memenuhi haknya, wahai Rasulullah."
Mendengar tekadnya yang kuat, Rasulullah menyerahkan pedang tersebut kepadanya.
Begitu menerima pedang Rasulullah , Abu Dujanah mengambil ikat kepala merah yang selalu ia simpan. Ia mengikatkannya di kepalanya.
Para sahabat mengetahui arti ikat kepala itu. Jika Abu Dujanah telah mengenakannya, berarti ia telah bertekad bertempur hingga titik darah penghabisan. Ia tidak akan mundur sebelum peperangan selesai.
Dengan langkah yang gagah ia berjalan menuju medan perang. Rasulullah melihat caranya berjalan yang penuh keberanian, lalu bersabda bahwa gaya berjalan seperti itu tidak disukai Allah, kecuali dalam keadaan seperti ini, yaitu saat menghadapi musuh di medan jihad.
Ketika pertempuran dimulai, Abu Dujanah maju ke garis depan. Dengan pedang Rasulullah di tangannya, ia menerobos barisan Quraisy. Setiap musuh yang menghadangnya berhasil ia kalahkan dengan izin Allah.
Di tengah peperangan, ia melihat seorang prajurit Quraisy yang paling berani terus mengobarkan semangat pasukannya.
Abu Dujanah segera menghadapinya hingga akhirnya musuh itu berhasil dikalahkan.
Tak lama kemudian, ia berhadapan dengan seorang wanita Quraisy yang terus membakar semangat pasukan untuk memerangi kaum Muslimin.
Abu Dujanah mengangkat pedangnya, tetapi ia mengurungkannya.
Setelah perang usai, ia berkata bahwa ia merasa pedang Rasulullah terlalu mulia untuk digunakan membunuh seorang wanita, sehingga ia memilih menahan diri.
Ketika keadaan perang berubah akibat sebagian pasukan pemanah meninggalkan pos mereka, kaum Muslimin berada dalam keadaan sangat genting. Banyak musuh berhasil mengepung Rasulullah .
Melihat hal itu, Abu Dujanah segera berlari menuju Rasulullah . Bersama beberapa sahabat lainnya, ia berdiri di depan beliau sebagai perisai hidup.
Anak-anak panah musuh terus meluncur ke arah Rasulullah .
Abu Dujanah membalikkan tubuhnya, menjadikan punggungnya sebagai pelindung. Panah-panah itu menancap di punggung dan tubuhnya, tetapi ia tetap berdiri kokoh.
Baginya, keselamatan Rasulullah jauh lebih berharga daripada keselamatan dirinya sendiri.
Meskipun tubuhnya dipenuhi luka, Abu Dujanah tidak meninggalkan tempatnya hingga serangan musuh berhasil dipatahkan.
Keberanian, pengorbanan, dan cintanya kepada Rasulullah ﷺ dikenang sepanjang sejarah Islam sebagai teladan bagi setiap Muslim. Ia tidak mencari pujian ataupun kemasyhuran.
Yang ia inginkan hanyalah ridha Allah dan kesempatan membela Nabi-Nya.
Hikmah Kisah
• Keberanian sejati lahir dari keimanan kepada Allah.
• Cinta kepada Rasulullah ﷺ dibuktikan dengan pengorbanan, bukan hanya ucapan.
• Amanah yang diberikan harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
• Seorang Muslim tetap menjaga adab dan tidak melampaui batas, bahkan di tengah peperangan.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Posting Komentar untuk "Kisah Abu Dujana Sang Pemilik Ikat Kepala Merah di Perang Uhud"