Suatu hari, ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk bersama para sahabat di Masjid Nabawi, datanglah seorang pemuda.
Wajahnya tampak gelisah, namun ia memberanikan diri menyampaikan sesuatu yang membuat semua orang terkejut.
Dengan suara lantang ia berkata,"Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina."
Para sahabat langsung marah. Mereka menganggap ucapan itu sangat lancang. Beberapa di antara mereka hendak memarahinya, namun Rasulullah ﷺ justru mengangkat tangan dan berkata dengan lembut,
"Biarkan dia. Dekatlah ke sini."
Pemuda itu pun mendekat dan duduk tepat di hadapan Rasulullah ﷺ. Tidak ada bentakan, tidak ada cacian, hanya tatapan penuh kasih sayang.
Rasulullah ﷺ kemudian bertanya,
"Apakah engkau rela jika hal itu dilakukan kepada ibumu?"
Pemuda itu segera menjawab,
"Tidak, demi Allah. Aku tidak akan rela."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Begitu pula orang lain, mereka tidak rela jika hal itu dilakukan kepada ibu mereka."
Beliau melanjutkan,
"Apakah engkau rela jika itu terjadi kepada putrimu?"
Pemuda itu menjawab,
"Tidak, demi Allah."
Rasulullah ﷺ kembali berkata,
"Begitu pula orang lain, mereka tidak rela jika itu terjadi kepada putri mereka."
Beliau terus mengajukan pertanyaan yang sama tentang saudara perempuan, bibi dari pihak ayah, dan bibi dari pihak ibu. Setiap kali pemuda itu menjawab bahwa ia tidak rela,
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa setiap orang juga memiliki perasaan yang sama terhadap keluarganya.
Saat itu, pemuda tersebut mulai memahami kesalahan cara berpikirnya. Hatinya yang semula dipenuhi hawa nafsu berubah menjadi rasa malu dan penyesalan.
Kemudian Rasulullah ﷺ meletakkan tangan beliau di dada pemuda itu seraya berdoa,
"Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya."
Doa itu menembus relung hati sang pemuda. Ia merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Setelah kejadian itu, para sahabat meriwayatkan bahwa pemuda tersebut tidak pernah lagi tertarik kepada perbuatan zina.
Kisah ini menjadi bukti betapa agungnya akhlak Rasulullah ﷺ. Beliau tidak mengubah manusia dengan kemarahan, melainkan dengan kasih sayang, logika yang menyentuh hati, dan doa yang tulus.
Cara beliau mendidik membuat seseorang berubah bukan karena takut kepada manusia, tetapi karena tumbuhnya kesadaran dan ketakwaan kepada Allah.
Hikmah Kisah
Dakwah yang lembut sering kali lebih efektif daripada kemarahan.
Setiap dosa dapat dijauhi ketika hati disentuh dengan hikmah.
Rasulullah ﷺ selalu mendidik dengan kasih sayang dan kebijaksanaan.
Doa seorang pendidik dapat menjadi sebab hidayah bagi seseorang.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.

Posting Komentar untuk "Kisah Pemuda Yang Minta Izin Bersina Kepada Rasulullah"