Dijual cepat Rumah/tanah dengan seluas 336 M2 sertipikat Hak Milik Alamat Jalan Dr Ratulangi No. 3, E. Yang berminat dapat menghubungi Samsons Supeno HP 0812 5627 7440- 085 336 244 337 ttd Samson Supeno

Kisah Tragis Sersan Ahmad Zha Dibalik Sejarah Kelam Aljazair


 Sersan Mayor Zga (Adjudant Zga), pengawal pribadi Jenderal Prancis Bigeard semasa Perang Kemerdekaan Aljazair. 

Dialah pria yang menjadi perisai hidup komandannya, menyerahkan nyawa demi sang jenderal. Saking dekatnya, Bigeard bahkan berujar dalam pidato penghormatan terakhirnya, "Dia sudah seperti saudaraku sendiri.

Bagi yang belum tahu, Jenderal Bigeard adalah salah satu komandan pasukan khusus paling tersohor di militer Prancis. Paris memberi perintah tegas kepadanya: tumpas revolusi Aljazair dengan segala cara. Bigeard adalah penjahat pe*rang tulen. 

Ia tidak sekadar memimpin pertempuran, melainkan mengoperasikan "pabrik" te*ror dan ketakutan berskala penuh. 

Namanya abadi bersama jenis-jenis penyiksaan paling brutal dalam sejarah Aljazair—sebuah metode keji yang bukan sekadar mencari pengakuan, melainkan untuk menghancurkan jiwa dan menginjak-injak harga diri manusia.

Rakyat Aljazair digiring ke ruang-ruang bawah tanah yang gelap, tempat di mana keke*jian tak masuk akal dilegalkan. 

Konon, ia memerintahkan tubuh para tawanan direbus dalam kuali besar hingga daging mereka terkelupas dari tulang, digoreng dalam minyak mendidih, dicungkil matanya, dipotong hidungnya, hingga dirusak pendengarannya. 

Para wanita diperk*osa di depan mata keluarga mereka, anak-anak ditenggelamkan, dan tubuh tawanan dibasahi sebelum disengat listrik tegangan tinggi.

Ada pula metode ke*jam yang sangat ikonis bernama "crevettes de Bigeard" (udang Bigeard); kaki para tawanan dibenamkan dalam adonan semen, lalu setelah mengeras, mereka dilempar hidup-hidup dari helikopter ke tengah laut lepas.

Yang membuat mereka hilang tanpa kubur maupun nisan. Bigeard kerap menghadiri langsung sesi-sesi jagal ini, mendengarkan jeritan para korban, bahkan tersenyum menikmati rintihan mereka yang kian melengking.

Di tengah neraka jaha*nam inilah Zga berdiri. Ia adalah pria Aljazair asli dari wilayah Aurès, lahir dari rahim orang tua Aljazair. 

Wajahnya mirip dengan para korban, ia pun menuturkan bahasa yang sama dengan mereka. Namun, ia justru memilih menjadi orang kepercayaan sang algojo. 

Zga bukan sekadar serdadu biasa di militer Prancis; ia adalah orang yang memegang kunci keselamatan nyawa Bigeard. 

Mereka tak terpisahkan, dan Bigeard tidak memercayai siapa pun sebesar kepercayaannya pada Zga.

 Ketika ruang-ruang penyi*ksaan itu dipenuhi oleh jerit tangis saudara sebangsanya, Zga berdiri kokoh di samping tuannya.

 Jeritan kaum tertindas tak mengusik nuraninya, air mata para ibu tak mengetuk hatinya. Bahkan, demi menyenangkan sang tuan, tak menutup kemungkinan ia ikut mengotori tangannya sendiri dalam aksi penyik*saan itu.

Hingga tibalah hari itu, 19 Mei 1959, di jantung kota Saïda, Aljazair.

Para pejuang Front Pembebasan Nasional (FLN) telah menyiapkan penyergapan yang matang untuk menghabisi Jenderal Bigeard. 

Saat berondongan pe*luru melesat ke arah sang jenderal yang telah melumuri Aljazair dengan da*rah, Zga tanpa ragu pasang badan. Ia menjadikan dadanya tameng peluru.

 Zga tewas seketika di tempat kejadian, sementara Bigeard melenggang selamat. Tragisnya, Zga memilih mati demi melindungi sang penjajah tanah airnya.

Prancis menggelar upacara pemakaman militer yang megah untuk menghormati Zga. Bigeard hadir langsung, membacakan pidato bela sungkawa, dan menyematkan medali kehormatan anumerta di atas jasadnya sembari membisikkan kata perpisahan: "Dia adalah saudaraku."

Zga memang telah tiada, namun kisahnya abadi sebagai refleksi.

Sejarah mencatat bahwa tidak ada satu pun kekuatan kolonial di dunia ini yang mampu bertahan lama tanpa adanya keterlibatan "orang dalam"anak-anak negeri yang sudi memanggul senjata penjajah, mengawal para komandannya.

Yang memaklumi kekejamannya, dan tega menjual bangsanya sendiri. Bendera penjajah tidak berkibar tinggi semata-mata karena kekuatan militer asing, melainkan karena disokong oleh tangan-tangan lokal dan wajah-wajah pribumi yang bermuka dua: berwajah ramah di depan sesama, namun menghamba pada musuh.

Ini adalah hukum besi sejarah yang tak pernah berubah. Jika kolonialisme masa lalu membutuhkan sosok seperti Zga, maka para diktator dan penguasa zalim hari ini pun tidak akan bertahan di singgasananya hanya karena kekuatan pribadi mereka. 

Mereka bertahan karena ada orang-orang yang rela menjadi anjing penjaga, membungkam rakyat demi sang penguasa, dan menjadikan kelangsungan takhta si zalim sebagai harga mati yang layak dibayar dengan nyawa.

 Tirani hanya bisa hidup di atas pundak para pemandu sorak, langgeng karena pasukan pemburu rente, dan menguat ketika ada anak bangsa yang lebih rela berkorban demi sang penguasa ketimbang melindungi saudaranya sendiri.

Ancaman terbesar bagi suatu bangsa bukanlah ketika mereka dikepung oleh banyak musuh dari luar. Bahaya yang paling mematikan adalah ketika di dalam tubuh bangsa itu sendiri tumbuh subur orang-orang yang menganggap penghambaan kepada penguasa zalim sebagai sebuah kehormatan

 Pembelaan terhadap keji sebagai kepahlawanan, dan pengorbanan demi penindas sebagai bentuk kesetiaan. Merekalah bahan bakar sejati bagi kolonialisme, dan tiang penyangga abadi bagi setiap tirani.(*)

Posting Komentar untuk "Kisah Tragis Sersan Ahmad Zha Dibalik Sejarah Kelam Aljazair"