Watampone,-Sudah lama saya tidak menginjakkan kaki di kota ini. Sekitar 170 kilometer jaraknya dari Makassar. Dalam kondisi perjalanan yang lancar, empat hingga lima jam sudah cukup untuk sampai.
Tidak terlalu jauh memang, tetapi cukup lama untuk membuat seseorang menemukan banyak hal yang berubah ketika kembali.
Kota itu adalah Watampone.
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, nama ini bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah pusat sejarah Bone, tempat berbagai peristiwa penting pernah berlangsung dan membentuk perjalanan panjang masyarakat Bugis.
Dari wilayah inilah lahir kisah-kisah kepemimpinan, keberanian, dan kebijaksanaan yang masih hidup hingga hari ini dalam ingatan kolektif masyarakatnya.
Kali ini saya datang bukan untuk menelusuri jejak masa lalu.
Saya datang sebagai seorang pengunjung yang ingin melihat bagaimana kota ini bertumbuh pada zamannya sendiri.
Ketika memasuki kawasan pinggiran, kesan pertama yang muncul justru rasa akrab. Beberapa sudut masih terlihat seperti yang saya kenal bertahun-tahun lalu.
Jalan-jalan yang sama, bangunan yang terasa familiar, dan suasana yang masih menyimpan ketenangan khas kota-kota besar yang tidak tergesa-gesa. Tetapi kesan itu perlahan berubah ketika kendaraan memasuki pusat kota.
Ada energi yang berbeda.
Watampone tampak lebih hidup dibanding yang saya ingat. Deretan bangunan baru berdiri di berbagai sudut. Aktivitas usaha terlihat semakin ramai.
Jalan-jalan utama tampak lebih terang dan tertata. Kota ini tidak berubah secara dramatis, tetapi cukup untuk membuat orang yang lama pergi merasakan bahwa sesuatu sedang bergerak.
Perasaan itu semakin kuat ketika malam tiba.
Di banyak sudut kota, kafe dan ruang-ruang pertemuan tumbuh dengan wajah yang menarik. Halaman parkir dipenuhi kendaraan.
Meja-meja dipenuhi anak muda, keluarga, pekerja, hingga kelompok-kelompok kecil yang larut dalam percakapan.
Ada yang berdiskusi serius. Ada yang tertawa ringan. Ada yang bekerja di depan laptop. Ada pula yang sekadar menikmati secangkir kopi dan suasana malam.
Pemandangan sederhana seperti ini mungkin terlihat biasa. Namun bagi saya, justru di situlah tanda-tanda perubahan sebuah kota dapat dibaca.
Kemajuan tidak selalu hadir dalam bentuk gedung tinggi atau jalan yang semakin lebar.
Kadang kemajuan hadir dalam bentuk ruang-ruang perjumpaan.
Ruang tempat orang saling bertemu, berbagi gagasan, membangun jaringan, dan menciptakan peluang-peluang baru.
Sebab sebuah kota sesungguhnya tidak dibangun oleh beton semata. Ia dibangun oleh percakapan, kreativitas, dan keberanian warganya untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Karena itu, menjamurnya kafe, kedai kopi, dan usaha kuliner di Watampone tidak layak dipandang hanya sebagai tren gaya hidup.
Di balik secangkir kopi yang tersaji, terdapat rantai ekonomi yang bekerja.
Ada petani yang menanam bahan baku, pedagang yang memasok kebutuhan, pekerja yang menggantungkan penghasilan, hingga para pelaku usaha yang berani mengambil risiko membuka lapangan pekerjaan.
Satu meja yang terisi pelanggan mungkin terlihat sederhana. Tetapi di belakangnya ada banyak tangan yang ikut bergerak.
Ketika halaman-halaman parkir penuh dan ruang-ruang usaha ramai pengunjung, yang sesungguhnya sedang kita lihat bukan sekadar keramaian malam. Kita sedang menyaksikan denyut ekonomi rakyat yang hidup dan terus bergerak.
Di situ, saya mulai melihat Watampone dari perspektif yang berbeda.
Kota ini tampaknya sedang mengalami fase pertumbuhan yang menarik. Usaha mikro dan kecil tumbuh di berbagai sudut. Sektor jasa berkembang. Peluang usaha bermunculan.
Anak-anak muda mulai menemukan ruang untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus membangun kemandirian ekonomi.(*)

Posting Komentar untuk "Watampone yang Sedang Menulis Babak Baru"